Wednesday, June 4, 2014

Soto Jakarta H Agus Barito

Kalau menurut spanduk, judul warung kaki lima di kawasan Barito, Jakarta Selatan, ini "Soto & Sop Kaki Sapi, Sum-sum, dll H. Agus". Judulnya geje banget? Dan lain-lain itu apa? Well, abaikan. Soto di sini termasuk gagrak soto jakarta alias soto betawi. Sebenernya ada pengalaman buruk dengan soto betawi. Dulu sewaktu masih di Bandung, aku pernah pesen soto betawi ke teman OB di kantor. Ternyata sotonya full jeroan, nggak ada dagingnya sama sekali. Aku langsung ilfil nggak jadi makan karena aku emang nggak doyan jeroan. Belakangan aku dikasih tau, sebenernya bisa pesen isinya daging doang kalau nggak mau jeroan.

Abis itu, aku nggak pernah pesen-pesen lagi soto betawi. Makan soto betawi lagi pas udah di Jakarta. Waktu itu di kantor ada program dapur umum buat korban banjir Jakarta. Nah pas hari terakhir, ibu-ibu warga sekitar kantor masakin soto betawi buat seluruh relawan dapur umum.

Kalau untuk soto betawi warungan, soto H Agus ini pengalaman pertama. Awalnya ada temen yang ngomong via WA kalau ada soto yang recommended di daerah Barito. Setelah janjian yang rada-rada nggak jelas, kita ke sana juga pada suatu Sabtu siang. Kita dateng hampir setengah 2 dan warungnya masih rameee banget. Semua tempat duduk penuh, yang ngantre juga banyak.

Ya sudah kita juga ikutan ngantre. Untungnya pelayanan mereka lumayan cepet, jadi kita nunggunya nggak kelamaan. Nggak sampe bikin aku emosi atau gemeteran saking lapernya.

Oke, soto daging yang kita pesen dateng. Yak, aku pesen yang isinya daging aja. Standar banget ya? Abis nggak sanggup makan babat, ginjal, dan temen-temennya. Kemaren denger kata ginjal aja udah ngeri. Setelah ritual wajib kucur-kucur jeruk nipis dan sambel, soto yang penuh taburan emping goreng ini mulai aku cicipin. Sayangnya aku kebanyakan ngasih jeruk nipis dan nggak berani kasih sambel banyak-banyak karena perut lagi sensi, jadi sotonya agak terlalu asem dan kurang menggigit. Dagingnya sendiri empuk sih. Kuahnya juga gurih. Cuma kita curiga, sebenernya soto itu enaknya murni karena bumbu-bumbu rahasia apa karena micin. Kemaren ada sih pengunjung yang minta soto tanpa micin juga.


 
Selain perkara micin, sempet dibahas juga masalah talenan yang dipake buat ngiris segala macem perintilan soto. Kata temenku, sampe talenannya dekil kayak penuh daki. Huek, nggilani. Padahal kalau kata Chef Juna di Master Chef Indonesia dulu, talenan itu mesti dipisah antara yang buat motong daging dan sayuran biar nggak terjadi kontaminasi silang.


Tapi meski ada bagian yang nggilani, kayaknya kita mau ke sana lagi, masih ada yang penasaran ama sum-sumnya plus nyobain soto tanpa micin. Kalow aku nyobain sopnya aja kali ya, yang tanpa santan. O, iya, total kerusakan untuk dua porsi soto plus nasi, es jeruk, teh botol dingin, dan dua bungkus emping Rp 60.000. Kalau mau sum-sum, harus dateng jam 11.00-12.00 karena di luar itu dijamin pasti keabisan.

Tuesday, May 7, 2013

Makanan Pinggir Jalan, Surga Kuliner di Depan Mata

Makanan enak selalu identik dengan tempat makan bagus sekelas restoran atau kafe? Menurut saya kok enggak. Entah tertanam sejak kapan, saya berpendapat, ada jenis makanan tertentu yang keotentikan rasanya tidak bisa kita temukan di restoran. Untuk makanan seperti sate, soto, nasi uduk, atau sop, saya lebih percaya pada warung pinggir jalan, entah warung permanen sederhana maupun warung tenda bongkar pasang. Kalau warung itu selalu ramai, berarti kita wajib coba.

Pernah ke Jogja kan? Di sana ada kekayaan kuliner bernama angkringan, dan itu pasti di pinggir jalan. Tempat duduk hanya tersedia di sekeliling gerobak yang sekaligus berfungsi sebagai meja untuk menyajikan sego kucing (nasi kucing) dan kawan-kawan, atau lesehan beralas tikar. Tapi, dijamin kita betah ngobrol berjam-jam sambil menikmati sego kucing dengan lauk aneka sate (telur puyuh, ati ampela, bakso), tahu-tempe bacem, atau gorengan. Tak ketinggalan teh poci nasgitel (panas-manis-kental) atau kopi hitam yang dicemplungi arang membara, yang akrab disebut kopi jos.
Di Bandung, di kawasan Cikapundung, ada warung pinggir jalan yang baru buka malam hari sampai pagi hari. Warung itu ramainya setengah mati. Makin mendekati pagi, makin ramai. Di sana, kalau kita lagi diet, mungkin program kita bakal gagal total mengingat banyak menu yang mengandung santan atau lemak, misalnya gulai, jerohan, dan usus. Tapi masih banyak juga kok menu yang lebih sehat, seperti tumis-tumisan dan pepes. Tapi, terlepas dari risiko gagal diet tersebut, sajiannya yang beragam, lengkap dengan bonus keramah-tamahan pemiliknya--yang selalu akrab menyapa pelanggan dengan sebutan geulis (cantik), kasep (ganteng), atau bu haji--menjadi magnet yang membuat kita selalu pengen dating lagi.

Masih dari Bandung, di salah satu ruas jalan yang dipenuhi dengan factory outlet, ada juga warung pinggir jalan yang bisa dibilang nomaden. Setahu saya, warung itu sudah pindah tiga kali. Awalnya mereka buka sekitar jam 11 malam, tapi kemudian buka lebih awal demi tuntutan konsumen yang enggak bisa makan kemalaman. Walaupun cuma warung kaki lima, perpindah-pindah pula, warung itu tetap ramai sampai sekarang.

Di Jakarta, banyak warung kelas kaki lima yang tidak pernah sepi. Wawasan saya seputar Jakarta masih sangat sempit, mengingat saya masih terhitung pendatang baru. Tapi setidaknya ada beberapa lokasi di sekitar tempat tinggal saya yang terlihat selalu ramai.

Di Pejompongan ada warung tenda aneka penyet dengan sambel khas yang menjadi juaranya. Dilihat sekilas dari luar, penampakan warung itu ”enggak banget”, tapi ramainya ampun-ampunan. Orang rela mengantre dari lapar sampai kenyang lagi, saking lamanya.

Bergeser sedikit ke daerah Rawa Belong,  ada warung tenda nasi uduk yang cukup kondang di seantero Jakarta. Di siang hari, masih di kawasan yang sama, ada asinan betawi dan rujak juhi yang selalu menggoda iman di tengah teriknya Ibu Kota.

Sekadar memberi gambaran, di sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya (sekali jalan sekitar 5 kilometer), bisa ditemukan banyak sekali ragam kuliner kekayaan Nusantara. Selain nasi uduk, asinan betawi, dan rujak juhi di atas, masih banyak lagi sajian yang menarik hati. Sebut saja soto mi khas Bogor, soto lamongan, sop buah berembel-embel Bandung, ketupat sayur, pecel kediri, pecel madiun, martabak (mulai dari yang mengusung nama Bandung, Bangka, sampai Mesir), angkringan sego kucing, pisang goreng pontianak, mendoan, dan sate padang. Banyak kan? Tapi masih ada lagi. Coba saya ingat-ingat lagi.

Oiya, ada kue dongkal (kue tradisional Betawi, mirip awug di Sunda), dan yang terbaru ada warung tenda bir pletok plus ketan bakar. Konsepnya saya lihat mirip angkringan Jogja. Duduknya lesehan.
Nah, yang ini saya belum coba, tapi segera menjadi target selanjutnya.

Kembali ke kekayaan kuliner jalanan. Itu baru seruas jalan sepanjang 5 kilometer. Dan belum semua saya sebutkan, misalnya nasi goreng dan pecel lele yang bisa dikatakan menjadi ”pemandangan wajib” di setiap ruas jalan. Coba seluruh Jakarta, coba seluruh Indonesia. Wuaaah, pasti banyak banget!  Kalau sudah begini, saya merasa bahagia hidup di Indonesia. Karena surga kuliner ada di depan mata, bertebaran di mana-mana. Ya, walaupun kadang ngomel-ngomel karena trotoar dimonopoli, atau kadang mengalami gangguan pencernaan ketika jajan sembarangan, saya tetap enggak kapok mengunyah jajanan pinggir jalan. Yuuuk, siapa mau ikut kulineran di pinggir jalan bareng saya?


Tulisan ini saya buat untuk memeriahkan Femina Foodlovers Blog Competition 2013

Saturday, February 2, 2013

Nemu yang Enak-enak di Secret Recipe

Rencana semula, aku dan mantan tetangga kamar yang segera akan jadi tetangga lagi mo ke Plaza Semanggi. Ada sesuatu yang mau dia beli. Tapi berubung nggak bisa masuk dari jalan yang biasa, trus muter-muter nggak jelas alias nyasar, keujanan pula, kita memutuskan pindah tongkrongan ke Central Park. Tau gitu langsung ke Central Park aja, dah kenyang makan kali. Huhu.

Sampe sana kita shalat Dhuhur dulu biar tenang, baru kemudian nyari makan siang. Sebenernya aku dah brunch (gayanyaaa) dengan soto betawi tanpa nasi dari dapur umum tanggap darurat banjir di kantor, tapi kok laper lagi ya. Hahaha, dasar gembul. Kita menyusuri deretan tempat makan di lantai LG (yang ada Ace Home Center-nya itu loh), binguuung. Tadinya sempet tertarik ama Ramen 38, tapi pas buka-buka menu di depan restonya, kok ada menu babi tapi ada menu halal juga. Kita nanya, tempat masak ama wadah makanannya terpisah apa enggak.


Ternyata peralatan masak dan mangkok-mangkoknya sama. Jadi, kita memutuskan nggak makan di situ. Trus kita mampir liat-liat menu di Takigawa. Nggak tertarik ama menunya. Banyak pilihan sushi, tapi Indah lagi pengen makan kenyang :) Lalu, kita menuju Secret Recipe. Liat-liat menunya menarik juga. Ada hidangan Asia dan Eropa. Untuk makanan Asia ada laksa, aneka nasi, pad thai, dan mi. Kalo hidangan Eropa, ada steak, lasagna, spageti. Ada macem-macem cake juga. Minumannya pun banyak pilihan.

 

Ya sudah, kita segera masuk. Setelah membolak-balik buku menu, aku pesan Grilled Chicken in Mongolian Sauce, minumnya Strawberry Lychee Tea. Indah pesen Noodle in Tom Yam Kung, minumnya Lychee Tea. Di luar dugaan, ternyata makanan sama minumannya enak-enak loh.

Ayam bakarnya terdiri dari dua potong filet ayam dengan tingkat kegosongan yang pas. Aku emang suka yang bakarnya sampe rada gosong. Bumbunya menyerap sampe ke dalem. Ayamnya yang tanpa tulang ya bikin kita gampang makannya. Sebagai pelengkapnya ada sayuran campur (wortel, buncis, jagung) yang dimasak dengan bumbu asem manis. Cocok ama rasa daging ayamnya yang bercita rasa gurih agak manis. Di menunya sih ada logo cabenya, tapi bagiku nggak ada rasa pedes sama sekali.

Pesenan Indah nggak kalah menggoda. Minya pake jenis kwetiau. Kuah tom yamnya segeeer banget. Lengkap dengan cabe rawit ijo yang gede-gede dan udang yang nggak juga gede. Enaaak.

Minumannya juga seger. Nggak mengecewakan deh makan di sini. Layak buat dikunjungi lagi kapan-kapan.

Oya sekadar info, Secret Recipe ini aslinya dari Malaysia. Konsepnya berupa toko kue, kafe, sekaligus restoran. Dapurnya terbuka, jadi sambil makan kita bisa liat para chef masak. Sayangnya nggak ada yang seganteng Chef Juna, hahahaha, ngimpiii! Kalau mau tau tentang Secret Recipe, bisa liat web site-nya di sini. Soal testimoni sih beragam. Beberapa orang Malaysia kecewa makan di sini, tapi kalow beberapa orang Jakarta bilang makanan di sini enak-enak. Nah, aku setuju dengan pendapat terakhir :)

Secret Recipe @ Central Park

Grilled Chicken in Mongolian Sauce   : Rp 42.800
Noodle in Tom Yum Kung                  : Rp 46.800
Lychee Tea/Strawberry Lychee Tea    : Rp 24.800
Service Charge 5 persen
Pajak 10 persen                                                 

Monday, January 7, 2013

Pempek Gaby Grand Wisata Bekasi


Kali ini wisata kuliner ke luar kota ah. Luar kotanya gak perlu jauh-jauh, cukup di Bekasi ajah. Hari Sabtu kemaren aku maen ke rumah bulek (adeknya ibu) di Tambun, Bekasi. Selain udah lama nggak ke sana, pengen juga tuh wisata kuliner bareng.

Biar gak kejebak macet, aku berangkat pagi-pagi dari kosan. Sampe di perempatan Slipi, maunya naek Mayasari AC 29 jurusan Bekasi Timur, tapi nunggunya lamaaa banget. Ya udah, terpaksa naek Transjakarta dulu ke Semanggi, di sana kan banyak pilihan. Dari sana naek AC 05 Bekasi Timur, turun di Bulak Kapal dan masih nyambung angkot lagi sekali sebelum dijemput sepupuku.

Nyampe rumah bulek, sarapan urap yang segeeer banget. Bukan masakan bulek, tapi beli di ibu-ibu yang lewat. Sayurannya kenikir, kacang panjang, bayem, ama toge. Bumbunya dicampur teri. Pedes tapi sopan. Yummy lah pokoknya. Seperti urap di kampung. Cuma kalow bikinan ibu, warna bumbu urapnya nggak merah karena banyakan cabe ijonya. Abis itu ngobrol ngalor ngidul sambil ngemil-ngemil jajanan Parahyangan, mulae dari peuyeum, krupuk mlarat, dodol nanas, banyaak deh.

 

Sorenya kita jalan, mo makan cwi mie yang bikin aku penasaran. Tempatnya nggak jauh dari rumah, di daerah Mangun Jaya. Kata paklekku yang orang Malang, rasanya otentik. Jadi makin penasaran. Tapiiii, kita harus kecewa karena warungnya tutup. Hiks. Dah jauh-jauh dari Jakarta, masih harus menyimpan rasa penasaran terhadap si cwi mie ini nih.

Ya wes, kita lanjut menuju Perumahan Grand Wisata. Di sana ada Pempek Gaby yang menurut mereka enak. Anak-anak aja sampe kalap kalow makan di sana. Hehe. Oke deeeeh...

 

Pempek Gaby ini letaknya di ruko-ruko di dalam perumahan. Warungnya kecil, tapi rame, salah satu indikator kalow makanannya enak :) Dua sepupuku udah tau banget apa yang mo dipesen. Dua lenjer, dua kapal selam. Kapal selemnya gede padaal. Sepupu yang kecil (kelas 5 SD) malah masih pesen es kacang merah. Ckckck. Aku sendiri pesen satu lenjer, satu kulit, ama dua bulet. Imut deh porsinya, tapi ditambah dengan es selasih yang porsinya mayan gede...pas lah.



Sebelum makan kita foto-foto dulu :) Baruuu deh makan. Pempeknya enak. Kenyal tapi enggak alot, dan ikannya berasa. Aku sih paling suka ama pempek buletnya. Ikannya paling berasa. Es selasihnya juga seger. Selasihnya banyaaak, ditambah nata de coco dan sirup coco pandan. Sempet nyicipin es kacang merahnya juga, dan enak juga. Kesimpulannya, tempat ini layak untuk dikunjungi lagi. Hehe. Oya di sini juga ada aneka cemilan, kek krupuk, kue semprong, dan kue bangket.

Total kerusakan untuk kita berlima sekitar Rp 150.000, lupa persisnya berapa soalnya ditraktir bulek :)) Keknya ini yang bikin tambah enak juga, hahahaha....

Abis makan kita mampir dulu ke rumah om yang bontot. Di sana ngobrol-ngobrol sambil minum teh mint bikinan sendiri. Segeeeer. Kita nggak lama di sana trus pulang lagi ke Tambun. Liburan yang sederhana tapi bikin bahagia :)

Pempek Gaby
Pusat: Jalan Cut Mutiah No 2B, Rawa Panjang, Bekasi Timur
Cabang: antara lain, Grand Wisata, Tambun, Bekasi

Friday, January 4, 2013

Sarapan di Bubur Ayam BCA Matraman

Sejak di Jakarta emang daya jelajah kulinerku menurun drastis. Tapi aku bertekad tahun 2013 harus mulai kulineran lagi. Biar ada cerita kalau tar dah nggak di Jakarta. Jangan sampe nyesel kok belum pernah ke sini, ke situ, dan seterusnya. Hehe.

Beberapa waktu lalu aku kursus cake dasar di daerah Matraman. Ini juga tekad laen, mumpung di Jakarta, banyak kursus baking, mesti dimanfaatin juga. Biar ilmu baking-nya berkembang, suatu saat pasti berguna, setidaknya di dapur sendiri.
Ceritanya biar nggak telat kursus, aku berangkat pagi-pagi naek bus transjakarta. Naik dari Slipi Petamburan, turun di halte BNN dan ganti bus ke arah Tanjung Priok, lalu turun di halte Matraman 1. Dari situ nyeberang ke arah Bank BCA. Nah, di situ ada gerobak bubur ayam bergenre Cirebon yang rameee banget. Pastinya penasaran dong, walopun aku nggak terlalu hobi makan bubur ayam.

Ya sudah akhirnya aku ikut ngantre. Lamaaa banget karena satu orang bisa mesen lima porsi bahkan lebih, dengan pesenan yang beda-beda. Misalnya yang satu nggak pake ini-itu, yang satu pake itu-ini, yang satu banyakin ininya. Bikin makin lama kan? Setelah nunggu setengah jaman, akhirnya sampe juga giliranku. Aku pesen bubur ayam biasa porsi setengah, karena kuliat porsinya udah gede. Di sana ada pilihan bubur ayam biasa atau spesial, porsi satu dan setengah.

Giliran pesenanku udah selese diracik, kursinya udah didudukin orang semua. Ya wes, nangkring di tempat seadanya yang panas meski hari masih pagi. Buburnya enggak kental model bubur Mang Oyo di Bandung, tapi cenderung agak encer. Kalau tanpa kuah berasa tawar, tapi stelah kuahnya yang rada kekuningan dicampur, rasanya jadi gurih. Suwiran ayam, cakue, dan taburan kedelainya juga melimpah. Selain itu masih ada taburan daun bawang dan dua macem krupuk. Kalau biasanya cuma krupuk oranye, yang ini istimewa. Ada krupuk singkong kecil-kecil warna putih yang di tengahnya ada serpihan cabe merah. Kalau dulu di kampung aku nyebutnya krupuk pedes. Rasanya juga masih sama. Hmmm, tambah yummy deh.

Kalau buburnya kek gini aku sih doyan. Setengah porsi tandas loh... padaal biasanya aku susah ngabisin bubur ayam karena cepet eneg. Buat yang penasaran, cobain sendiri deh :)


Harga:
1 porsi biasa    : Rp 8.000
1/2 porsi          : Rp 7.000
bubur spesial    : Rp 15.000
sate telur puyuh: Rp 2.000

Ngopi di Coffee Toffee

Ini kedai kopi yang bikin penasaran. Bukan apa-apa, sebelum aku sempet nyobain, kedai yang di salah satu gedung kantorku tutup dan diganti kedai laen yang lebih gak menarik. Naaah, akhir tahun kemaren kesampaian deh nongkrong di Coffee Toffee yang di Gandaria City.


 
Komentarku? Tempatnya kecil, cuma muat sekitar 10 orang. Trus orang bebas merokok di situ. Setelan musiknya juga terlalu kenceng, padahal musiknya sih asik-asik. Tapi karena setelannya terlalu kenceng jadinya bukan asik melainkan berisik. Jadi kalau mo mencari ketenangan, tempat ini kurang cocok. Kopinya sendiri lumayan enak, cuma yang tertera di gambar ama aslinya beda. Di gambar, template atasnya itu bunga-bunga, tapi aslinya butek. Template-nya nggak keliatan. Mungkin pegawainya masih amatir. Soalnya selain template-nya suram, pesenanku datengnya juga lamaaa pisan. Wew.
 
Pisang kejunya nggak lebih baek. Bakar pisangnya nggak niat, jadi ga ada efek gosong-gosongnya sama sekali. Masih putiiiih. Ditambah dengan lelehan susu kental manis putih dan taburan keju parut, makanan ini sukses tampil pucat. Kalau nggak karena laper, keknya males makan deh.

Eh, ini ulasannya kok negatif semua yak? Maaf ya Coffee Toffee :)) Tapi emang begitulah adanya. Padahal kalau baca di internet, review-nya bagus loh. Semoga di gerai-gerai lain kualitasnya emang bagus....

Tuesday, December 11, 2012

Lagi Suka Ngopi (Lagi)...

Sudah lebih dari sebulan aku mulai rutin lagi ngopi tiap hari. Padahal sebelumnya udah bisa mengurangi jadwal ngopi jadi dua hari sekali, diselang-seling ama ngeteh. Tapi sejak aku ditugaskan di sini dan mesti masuk jam setengah 10 pagi, wadoooh rasanya berat kalow enggak ngopi. Bukan buat mengusir ngantuk sebenernya, tapi lebih biar badan rada segeran dan siap memulai aktivitas.

Sebagai pekerja malam, jam setengah 10 itu terlalu pagi buat bekerja. Sebenernya udah bangun jam segitu, tapi masi dalam tahap males-malesan dan tidur-tiduran di kamar. Secara anak kos gitu loh, apa yang bisa dilakukan selain aktivitas semacam itu *dasar pemalasss*.

Untuk kopinya sendiri, aku nggak minum yang hard core kek kopi item tanpa gula ataupun kopi tubruk.
Tapi cuma kopi instan yang udah dikombinasi ama susu dan krim. Favoritku tuh Good Day Mocacinno ama Nescafe Mochaccino. Kadang sih ganti juga ama rasa-rasa laen kek ABC Brownies atau Nescafe Cappuccino. Padaal kopi-kopi model gini justru tinggi kandungan gulanya ya? Makanya aku membatasi cuma minum kopi-kopian ini segelas sehari. Nggak lebih. Kecuali kalow malemnya nongkrong di warung kopi... hehee, tapi ga sering kok.


Nah, hari ini juga pengecualian. Aku abis dapet oleh-oleh kopi dari sahabatku yang pulang tugas dari Aceh. Wah, ngomongin Aceh, jadi inget beberapa tahun lalu saat abis lulus, aku sempet keterima di sebuah LSM pendidikan di Aceh. Waktu itu belom lama dari tsunami. Dan dengan berbagai alasan, keluarga melarang aku ke sana. Tapi, aku nggak nyesel kok. Mungkin kalow aku jadi ke Aceh, aku nggak bakal bisa bolak-balik pulang pas Ibu sakit, juga bolak-balik pulang nengokin Bapak setelah Ibu nggak ada. Eh, kok jadi mellow yak.

Lanjut ke kopi deh. Jadi karena nggak sabar nunggu besok, sore ini aku ngopi lagi walopun pagi tadi udah. Menunya ya kopi dari Aceh ini. Nggak pake repot loh, karena kopinya udah dikemas dalam sachet lengkap dengan gula. Tinggal diseduh pake air mendidih, dan voilaaa... siap dinikmati.

Aku bukan pengulas kopi yang baik. Hanya suka minum kopi. Kalau ada kopi ama teh, aku milih kopi. Cuma di level seperti itu. Komentarku tentang kopi Aceh Ulee Kareng yang kesohor itu? Hmm, enak-enak aja tuh. Rasanya nggak begitu manis. Akan memberikan semangat saat diminum di pagi hari, dan memberikan efek menenteramkan kala diminum di sore hari seperti ini, asalkan nggak lagi dikejar deadline ya. Hehehe. Nggak percaya? Lah, kan udah dibilang aku bukan pengulas kopi yang baek... :))

* Yang aku cobain ini versi 2 in 1 kopi ama gula aja. Masih ada satu lagi 3 in 1 kopi, gula, dan susu, yang di kemasannya disebut kopi tubruk. Bukannya yang disebut kopi tubruk itu kopi ama gula doang yak? Ah, luweeeh....

Wednesday, September 12, 2012

Ketempling, "Klethikan" dari Kuningan

Belum lama ini aku maen ke rumah kakakku. Seperti biasa, ritualku kalow di sana tuh menjelajah semua toples. Dasar tukang ngemil. Kebetulan abis Lebaran juga, jadi nemu beberapa cemilan khas Betawi, macem akar kelapa, kembang goyang, dan telur gabus.

Tapiii, ada satu toples yang isinya bikin aku menjerit-jerit histeris saking senengnya *hiperbola*. Soalnya, isinya ketempling! Keripik keras dari singkong yang kukenal pas di Bandung dulu, konon khas Kuningan. Eh, tapi kalow kata sahabatku di sini, teksturnya renyah loh. Bentuknya mirip combring, yang pernah aku tulis di sini. Rasanya juga hampir sama, ada rasa khas singkong, plus sensasi kemlethuk kalow dikunyah karena teksturnya yang lumayan keras. Bedanya, oncomnya ada di tengah-tengah kripik. Trus ukurannya lebih besar.
Kata mbakku, dia dapet keripik ini dari tetangga yang asli Kuningan. Dan si ketempling ini udah menghuni toples berhari-hari. Mbakku sih doyan, tapi keras katanya. Kalow masku nggak suka karena menurut dia rasanya aneh. Emang, meski kita lahir dari rahim yang sama, untuk masalah selera makan, aku ama masku itu bedaaaa banget. Selera dia Jawa banget, sementara aku suka coba ini-itu. Seleranya udah campur-campur.

Nah kembali ama si ketempling, akhirnya yang tersisa di toples itu aku abisin. Masih belum puas (doyan apa maruk ya?), aku samperin tetangga di mana ketempling ini berasal. Kebetulan dia jualan aneka kripik dan oleh-oleh khas Kuningan.

Aku langsung beli 1 kilo, dong *kalap*. Sebagian aku bawa ke kantor. Awalnya nggak terlalu direspons tuh, dikiranya pedes, karena ada coklat-coklatnya di tengah. Tapi nggak lama kemudian, abis juga. Ada yang bilang, enak nih buat pengusir ngantuk. Hahaha.

Oya, soal coklat-coklat di tengah ketempling, masih bikin penasaran nih. Kata mbak yang jual ketempling, itu tempe. Tapi nanya ke temen kantor yang asal Kuningan juga (dan gosipnya juragan ketempling), biasanya itu oncom.

Ah, whatever, mau tempe atau oncom, yang jelas aku suka ketempling! Target berikutnya, nyobain ketempling versi kecil-kecil gembung yang kek ini nih.  Ada yang mau juga? :D

Tuesday, July 31, 2012

Roppan, Roti Bakar Jejepangan

Aku tau tempat makan ini dari FB temen, waktu dia posting foto makan-makan di situ. Keknya cemilannya menarik. Trus Googling-lah aku, nyari tau di sana ada menu apa aja sih. Nemu blognya orang yang sampe keranjingan ke Roppan. Menurut dia, roti bakarnya enak-enak.

Ya weslah, kemaren sore, mumpung libur aku ngabuburit ke Plaza Semanggi. Tempat buka puasanya udah pasti Roppan. Sebelumnya sih nyangkut di Gramedia. Beli buku gaya berjilbab dan buku resep. Abis itu beli beras merah di Giant. Sama sekali nggak shopping baju atau apa.

Dari pengalaman tahun lalu buka puasa di mal, tempat makan bakalan penuh sesak menjelang adzan maghrib. Tapi nggak lama kemudian bakalan normal lagi. Maka dari itu, aku memutuskan untuk makan setelah shalat maghrib aja. Jadi buat ngebatalin puasa, aku cukup minum air mineral. Abis itu shalat maghrib di musholla di tempat parkir bawah Giant.

Kelar shalat, baru deh meluncur ke Roppan. Mayan rame juga, tapi masih ada beberapa tempat duduk kosong. Karena dari banyak testimoni di blog, unggulannya itu roti bakar, akhirnya aku milih roti bakar Ikebanana (kata mas-mas yang jaga sih salah satu best seller-nya). Minumnya hazelnut mocha shake. Hmmm, slalu nggak tahan dengan sesuatu yang mengandung hazelnut :))

Pesenan dateng nggak pake lama. Ikebanana tuh ternyata "cuma" selembar roti tawar agak tebal berbentuk bujur sangkar dengan topping keju dan pisang yang dicoret-coret dengan cokelat trus dihias whipping cream dengan seiris stroberi. Disajikan dengan piring kertas kek wadah Bakmi GM kalow pesen anter itu loh. Pisau ama garpunya sih stainless steel.

Tekstur rotinya chewy. Keseluruhan rasanya enak, porsinya kecil jadi enggak bikin eneg. Tapi keknya ya ngga bakalan bikin aku kecanduan sih.

Minumannya disajikan dengan gelas plastik sekali pakai. Rasanya standarlah. Tapi laen kali masih mau dateng lagi, nyobain roti bakar yang seri asin atau menu-menu teriyaki set-nya.

Untuk menu yang aku pesan, total kerusakan Rp 35.000-an plus pajak. Roti bakarnya Rp 11.000 sekian.
Kalau buat beli roti bakar bandung di pinggir jalan, udah sampe muntah-muntah kekenyangan kali ya, hehehe..

Monday, May 28, 2012

Aneka Jamur di Kedai Rakyat




Kali ini kita ke Jogja, yuks. Nyobain hidangan aneka jamur di daerah Klebengan, deket kampus UGM. Kedai Rakyat, nama tempat makannya. Di sini ada dua kedai, yang satu kedai bakar-bakaran, yang satu lagi aneka jamur.

Aku dan adik-adik sepupuku, Lina dan Nurul, kompakan milih hidangan dari jamur. Macem-macem yang ada di situ. Nasi goreng jamur, sup jamur, tongseng jamur, jamur krispi, omelet jamur, dan banyak lagi yang laen. Aku milih sate jamur, salah satu yang direkomendasikan, dan tongseng. Lina pesen nasi goreng jamur krispi. Nurul pesen kwetiau.

Pas dateng pesanannya, loh kok tanpa nasi. Ternyata nasi putihnya dijual terpisah, dan di form pemesanan nyempil paling atas, jadi malah luput dari perhatian. Ya udah deh, tambah nasi putih. Nurul yang datengnya belakangan kena sial. Nunggunya mpe jamuran, pesenan nggak dateng-dateng juga. Setelah tanya ke petugasnya, ternyata pesenannya nyelip. Wew.

Nasi gorengnya mayan. Tapi jamur krispinya terlalu keras karena pake tepung beras. Aku sih suka-suka aja, gigiku cukup kuat soalnya. Tapi buat yang bermasalah dengan gigi, sebaiknya hati-hati :) Sate jamurnya juga enak, rasanya mirip daging ayam dengan tekstur kenyal-kenyal khas jamur tiram. Tongseng jamurnya seger, kwetiau lumayan. Yang jelas sih, makan di sini nggak bikin kantong bolong. Harga makanannya bervariasi, mulai dari Rp 5.000. Nyenengin banget lah pokoknya. Berhubung harganya harga mahasiswa, jangan terlalu berharap dengan tampilan makanan ya. Nggak ada itu garnish-garnish-an atau piring saji yang cantik-cantik.

Tapi makan di sini dijamin bikin hepi kok, berasa muda terus. Soalnya tempat makannya kan di lingkungan kampus, jadi yang makan kebanyakan ya mahasiswa. Meski udah berkepala tiga, aku nggak ngerasa beda tuh ama anak-anak mahasiswa itu, soalnya masih sama imutnya sih...hahahaha, hoeeekkk....

Mi Ayam Hijau Kemandoran


Dulu, aku tuh enggak doyan yang namanya mi ayam. Tapi, sejak di Bandung, aku jadi suka mi. Mulai dari yamin sampe lomie yang kuahnya kental kek ing*s, hahahaha. Nah, kali ini aku mo ngelaporin hasil kulineran mi beberapa bulan lalu. Tempatnya masih di seputaran Kemandoran I, di jalan yang sama dengan Sate H Suaib.

Kedainya kecil, dengan spanduk kain warna kuning kombinasi hijau. Kalau nggak salah tulisannya Bakmi Ayam 37. Agak-agak lupa persisnya, tar deh diliatin lagi kalow lewat. Yang jelas nomernya itu deh.

Yang menarik di sini, minya nggak berwarna kuning seperti mi pada umumnya, tapi hijau. Menurut yang punya, minya bikinan sendiri, dengan pewarna hijau dari daun sawi. Trus katanya lagi, mereka juga nggak pake vetsin. Jadi kalau mau makan mi sehat, bolehlah coba dateng ke sini.

Aku pesen bakmi ayam komplet. Komplet itu artinya pakai pangsit dan bakso. Liat penampakannya sih cukup menggoda. Bakmi yang berwarna hijau, trus potongan ayam yang nggak basa-basi. Bakso ama pangsitnya biasa aja, tapi secara umum minya enak kok. Mungkin karena sugesti ini makanan sehat kali ya, jadi rasanya enak-enak aja :) 

Oya, bapak yang punya kedai perhatian loh sama pengunjung. Pas diliatnya aku beberapa kali nyendokin sambel, dengan sigap dia nawarin acar cabe, yang langsung kusambut dengan gembira. Makannya jadi makin mantep deh.

Aku lupa berapa abis berapa untuk semangkok mi ayam komplet dan teh botol, tapi rasanya enggak sampai Rp 15.000.

Akhirnya... Sate Kambing H Suaib!


Di jagat perkulineran Jakarta, Sate H Suaib tampaknya cukup terkenal. Kalau nggak percaya, coba aja Googling, pasti nemu banyak tulisan tentang tempat makan ini. Lokasinya nggak jauh dari tempat kerja dan tempat tinggalku. Tepatnya di Jalan Kemandoran I. Kalau dari arah Slipi ke Palmerah, ikutin aja Jalan Palmerah Barat, setelah lewat pasar, belok kiri di pertigaan yang ada minimarket Alfamart. Itu udah Jalan Kemandoran I. Masuknya ga jauh kok dari situ.

Tempatnya sederhana dan nggak terlalu luas. Sebenernya udah berbulan-bulan aku ngidam sate ini, sejak Idul Adha tahun lalu. Berubung kita nggak dapet daging kurban tapi pengen makan sate, meluncurlah aku dan temenku, Mbak Putri, ke sana. Dan, jelas kecele. Warungnya tutup. Masih keukeuh pengen sate kambing, jalanlah kita ke tempat lain. Masih belum beruntung, sate kambingnya abis. Akhirnya harus puas dengan sate ayam, deh.

Setelah itu, dengan alasan kesibukan yang gak jelas, tertunda-tunda melulu acara berkunjung ke Sate H Suaib.

Keinginanku yang sederhana ini baru terpenuhi beberapa bulan lalu. Siang-siang abis hunting kosan bareng Mbak Putri, mampirlah kita ke sana. Tapi waktu itu lupa nggak bawa kamera jadi nggak ada fotonya deh. Beruntung ada temen yang ngajak ke sana lagi, jadi bisa makan sambil motret satenya. Biar ada bahan buat update blog ini. Kesian udah lama dianggurin :(

Sate di sini menurutku top markotop sip markusip. Dagingnya empuk, minim lemak, dan enggak prengus. Satu lagi, potongan dagingnya guede-guede. Pas pertama dateng, dengan pedenya aku dan Mbak Putri pesen masing-masing seporsi isi 10 tusuk. Dan kami sukses kekenyangan. Perlu waktu lamaaaa banget buat ngabisinnya.


Datang kedua kali, karena udah pengalaman, nggak mau kalap lagi. Jadi kita cuma pesen satu porsi buat berdua. Temenku awalnya masi nggak percaya dan pengen mesen sop kambing. takut nggak kenyang. Setelah pesenan dateng baru deh dia percaya. Dan ternyata udah bikin kenyang juga. Total kerusakan untuk seporsi sate, dua porsi nasi, dan dua es jeruk kalau nggak salah sekitar Rp 60.000-an. Emang lebih mahal ketimbang sate lain, tapi dijamin nggak nyesel lah. Ngomong-ngomong soal kerusakan, keknya aku masih ngutang ke temenku yang ganteng itu deh, hehehe.

Oya, di tempat makan ini nggak hanya ada menu kambing loh, tapi ada ayam dan ikan bakar juga. Hayuk, sapa mo nyobain, aku mau banget nemenin :)

Daftar kerusakan per September 2012
Sate kambing (10 tusuk): Rp 35.000
Sop kambing                 : Rp 18.000
Nasi                              : Rp 4.000
Es jeruk                         : Rp 5.000

Saturday, January 8, 2011

Tour de Angkringan Ibu Kota

Angkringan bisa dibilang identik dengan Jogja, Solo, dan sekitarnya. Tapi, untuk urusan angkringan, kuakui aku emang kuper. Kuliah di Jogja enam tahun, nongkrong di angkringan bisa diitung jari. Ke mana aja ya dulu di sana?

Lalu, hampir lima tahun di Bandung, baru sekali menginjakkan kaki di warung angkringan. Itu pun warung angkringan abal-abal. Nggak otentik. Di Bandung emang enggak banyak banyak angkringan, tapi sebenernya ada juga yang otentik, misalnya di Gelap Nyawang, deket ITB.

Ajaibnya, belum dua bulan di Jakarta, aku dah empat kali menyambangi angkringan. Kenapa harus jauh-jauh ke Ibu Kota untuk ketemu angkringan ya? Pertama kali diajak temen-temen kantor nyobain angkringan di Palmerah Barat, nggak jauh dari Pasar Palmerah ke arah Rawa Belong.
Merek angkringannya ”Angkringan Sego Kucing Gunung Kidul”. Wah, orang Gunkid emang eksis di mana-mana *bangga.com*. Menunya standar angkringan. Sego kucing, aneka gorengan (tahu, tempe), sate-satean (kikil, usus, telur puyuh, sosis, bakso, daging), plus macem-macem minuman (teh poci, jahe, susu jahe, teh, jeruk). Untuk sego kucing biasanya ada kode-kode rahasia, misalnya B untuk bandeng (maksudnya nasi dengan lauk secuil bandeng) dan T untuk teri. Terus terang nggak apal ada kode apa aja. Soalnya kalo ngangkring udah malem, kadang udah nggak lengkap lagi.

Nah, kalo doyan teh poci, di sini kita bisa puas-puasin minum sampe beser hanya dengan bayar seharga satu poci. Mo isi ulang berapa kali, bebassss. Nggak ada biaya tambahan.

Asiknya lagi, di sini kita duduk di tiker pandan jadul yang ada ornamen garis merah dan ijonya itu. Serasa duduk-duduk di rumah embah di Gunkid sana, deh. Hehe….

Kunjungan kedua dan ketiga di angkringan ini, aku ditemani temen-temen grup angkringan yang terdiri dari temen-temen masa kuliah plus temen-temennya. Seru juga ngumpul ma The Angkringaners yang doyan keliling dari satu angkringan ke angkringan di Ibu Kota ini. Dari kediaman masing-masing mereka rela datang ke Palmerah, lho. Jauh plus macet pula. Terharu nggak sih? *Padaal emang jadwalnya nyambangi angkringan baru kali, bukan karena akunya*
Keempat, giliran partai tandang. Aku dibawa ke angkringan Fatmawati. Jangan tanya lokasi persisnya di mana karena aku masih buta Jakarta, apa lagi malem-malem. Yang jelas, di Jalan Fatmawati, hehe. Di sini, mas-mas yang juwalan tampak metal-metal dengan seragam kaos item. Logo warung angkringannya kucing item. Ngeri thok, kata orang Semarang. Kalo diliat dari alamat e-mail-nya yang make istilah ”hik”, sepertinya mereka dari Solo.

Dibandingin ama angkringan Palmerah, angkringan di Fatmawati lebih kaya dalam hal menu, baik makanan mopun minuman. Sate-sateannya lebih banyak. Ada sate jamur dan sate telur muda, misalnya. Bahkan ada ayam goreng segala. Minumannya juga jauh lebih banyak. Ada wedang tape susu, wedang tape jahe susu, wedang secang. Macem-macem, deh. Sego kucingnya unik, dikemas berbentuk kerucut. Dalemnya sih standar. Cuma, di sini enggak ada tiker pandan. Kita duduknya di terpal tipis warna biru. Ya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tapi, selama ngumpul bareng temen-temen, tetep seneng kok.

Kalo disuruh milih, ya milih yang deket aja. Soalnya kalo ngangkring jauh-jauh harus ada fasilitas antar jemput. Ngerepotin orang. Kalo mo berangkat sendiri, harus naek taksi. Repot juga.

Bagaimana dengan harga? Nah iniii, enggak bisa kasih info soal harga, soalnya selama ini enggak pernah bayar sendiri. Ditraktir muluuu…hehehe *nggak modal banget* Buat temen-temen yang udah mengajakku bertualang rasa di angkringan Ibu Kota, makasih yaaaa....

*Foto bawah nyolong dari facebook Bowo. Gak papa ya Bow? :D

Thursday, December 16, 2010

Rambut Nenek, Enak Deh!

Ada dua yang aku suka dari kantor baru. Pertama, bisa sering-sering shalat maghrib berjamaah. Kedua, bisa sering-sering jajan. Hahaha, nyambung nggak sih. Abis gimana dong, hidup kan mesti seimbang, buat dunia dan akhirat. Halahhh.

Jadi niii, di samping kantor, tepatnya di Jalan Gelora VIII, berderet lapak penjual makanan. Yang pasti ada tuh warung nasi sama warung bakso. Kalo jajanan, pagi-siang suka ada jajan pasar, rujak, buah potong, es campur, sama rambut nenek. Kalo sore, ada siomay/batagor, bakpao, gorengan, mendoan, dan laen-laen. Keknya es campur juga ada sampe sore deh.

Di antara sekian banyak jajanan, tentu favoritku rambut nenek. Arum manis alias gula-gula kapas warna pirang (mungkin itu sebabnya dinamain rambut nenek) yang ditaruh di antara dua "krupuk" tipis warna pink. Pas aku SD dulu, krupuk ini terkenal dengan sebutan sempe (tentang sempe, baca di blog ini saja). Btw, kebayang gak sih bentuknya? Kalo enggak kebayang, liat aja deh fotonya. Hehe.Aku suka sama rambut nenek di samping kantor ini karena manisnya pas (padaal mungkin dicampur pemanis buatan ya). Krupuknya juga krispi. Cuma, dibandingin ma rambut nenek yang biasa aku beli di Bandung, ini rambutnya kurang tebel. Kalo di Bandung, setangkup tuh rambutnya penuh. Padet gitu. Mungkin si nenek yang di sini salah pake sampo ya…jadi rambutnya kurang subur :D

Buat yang mo beli, cukup siapin Rp 5.000 udah dapet seplastik isi lima tangkup "sandwich" rambut nenek. Fresh dari blek penjualnya….

Tuesday, December 14, 2010

Es Jadul di Kota Tua

Masih inget es potong aneka rasa—biasanya sih coklat, stroberi, kacang ijo, ketan item—yang plastiknya gambar Si Unyil plus tulisan ”Es Pelajar”? Kalo kalian melewatkan masa anak-anak tahun 80-an dan doyan jajan, pasti tau.
Ternyata esnya masih eksis sampe sekarang loh. Pertama kali ”reuni” ama es ini di depan kos sementaraku di Palmerah Selatan, Jakarta. Waktu itu cuma beli sepotong, rasa ketan item. Harganya Rp 1.000. Pas dicicipin, enaaaakkk. Masih seperti yang dulu. Ya udah, keluar lagi. Niatnya mo beli banyak buat disimpen di freezer. Eh, bapak penjualnya udah jauh. Kecewadotcomdeh. Terpaksa memendam keinginan untuk makan es potong lagi sampe waktu yang tidak bisa ditentukan. Huhuhu.

Tapi Tuhan baik, mempertemukan aku lagi ama penjual es potong. Gak seorang doang, tapi 3-4 sekaligus. Cuma, tempatnya jauuuh, di kawasan Kota Tua. Karena pengen, meski cuaca agak mendung, tetep aja beli. Mumpung ada di depan mata. Sayang dong kalo dilewatkan.

Di sini, harga es potongnya lebih mahal. Rp 2.000 per potong. Karena di kawasan wisata kali ya. Jadi harganya juga harga wisata. Di tempat ini keknya es potong jadi jajanan best seller. Aku liat-liat, banyak banget pengunjung yang jalan ato duduk-duduk sambil jilatin es jadul ini. Padaal, di sana banyak jajanan laen, kek arum manis, cilok, cireng, juga tahu gejrot.
Lagi-lagi aku cuma bisa makan sepotong. Ribet banget kan kalo beli banyak buat dibawa pulang. Duh, kapan lagi ya ketemu ama tukang es potong di deket-deket sini…. Ato aku harus hunting ke SD-SD? Tapi, anak-anak SD jaman sekarang apa masih mau makan es kek gini ya? :p


*Foto diperagakan oleh Putri dan Yudha... Esnya ditraktir ma Yudha. Terima kasiiih...

Tuesday, November 30, 2010

Liang Teh Medan ala Pasar Palmerah

Yuhuuuu… aku sedang berjodoh dengan jajanan-jajanan pinginanku, salah satunya liang tea/liang teh. Salah banyaknya menyusul yaaa.... Minggu-minggu terakhir di Bandung, aku ngidam teh ini, tapi lagi terjadi kelangkaan. Sebenernya di supermarket/minimarket juga ada liang tea, yang diiklanin Deddy Mizwar itu tuh. Tapi, males soalnya kemasannya kaleng dan kata tetangga sebelah enggak ada cincaunya. Pasti minumnya kurang seru.Yang biasa aku minum tuh liang tea produk industri kecil Bandung. Kemasannya gelas plastik bersegel. Ada dua merek yang aku suka. Gambarnya di sini nih. Satu lagi tutupnya warna coklat, beda merek. Selain seger, konon kabarnya teh ini juga berkhasiat meredakan panas dalam.

Ternyataaaa, di Jakarta, liang tea begitu mudah didapet. Setidaknya aku dah liat di dua tempat. Di pinggir jalan depan Pasar Palmerah sama di depan SD di kawasan yang sama, mangkal gerobak liang tea ”Liang Teh Medan Manis”. Kemasannya tentu bukan gelas plastik bersegel, tapi kantong plastik untuk yang dibawa pulang dan gelas besar (yang biasa buat es dawet/es campur) untuk yang diminum di tempat. Harganya murah meriah, Rp 2.000 segelas besar!
Penampakan dan rasanya mirip sama yang biasa aku minum. Coklat kehitaman kek cincau, manis plus ada rasa seperti cincau, tapi nggak ada cincaunya… Nah lo, bingung gak sih? Soalnya aku juga masih bingung liang tea itu sebenernya apa. Nyari-nyari di internet, nemu info di sini. Katanya, liang tea sama sekali nggak terkait ama daun teh. Cuma proses bikinnya pake acara nyeduh kek bikin teh.

Kalo ada yang tau di mana dapetin liang tea kemasan gelas plastik bersegel yang ada cincaunya, kek yang di Bandung, tolong kabari dunk. Kalo mo ngirimin sihlebih boleh :)

Saturday, September 25, 2010

Seblak yang Bikin Sakaw

Soal makanan dari aci, Priangan emang surganya. Sebut aja cilok, cimol, dan cireng. Masing-masing punya penggemar setia loooh. Aku sih nggak terlalu suka ama ketiga-tiganya. Cuma, harus kuakui, aku pun tak bisa menghindar dari virus makanan ber-aci. Dan, makanan yang sukses bikin aku sakaw itu adalah kerupuk seblak.

Orang Sunda pasti udah nggak asing ama makanan yang satu ini. Buat yang belum tau, seblak tuh kerupuk aci kecil-kecil warna putih yang dibedaki bumbu cabe kering. Penampilannya gak terlalu cantik karena permukaannya cemong-cemong bumbu cabe. Meski begitu, soal rasa jangan ditanya, endang bambang gulindang (meminjam kata-kata Pak Bondan). Pedesnya nonjok abis. Itu yang bedain ma kerupuk-kerupuk lain. Penyuka pedes wajib coba....Menurut temen yang asli Bandung, kerupuk ini lebih sip dimakan sama bakso atau nasi anget. Kalo aku sih, dicemilin biasa aja, terutama menjelang deadline, buat ngusir ngantuk. Hehe. Meski enak, jangan terus lupa diri ya makannya, soalnya kerupuk ini bisa menimbulkan efek samping sakit perut parah. Aku dah ngalamin sendiri, haha. Tapi, gak kapok kok, karena dah tau tips n triknya. Hayuk, sapa mau nyobain? Aku punya stok seplastik besar nih :) Atau, kalo mo beli sendiri, silakan meluncur ke toko oleh-oleh di Bandung dan sekitarnya....

Thursday, September 23, 2010

Rujak Gobet van Jogja

Ya, rujak serut dengan topping es krim (tunggu, bukan es krim, tapi es puter :p) ini terkenal dengan sebutan rujak gobet. Entah siapa yang kasih nama dan bagemana asal usulnya. Yang jelas, rujak ini salah satu cemilan favoritku waktu kuliah.Menyesuaikan dengan rute kos-kampus, tukang rujak gobet yang sering kusamperin yang mangkal di deket Mirota Kampus, Jalan C Simanjuntak, Jogja, toko swalayan idola mahasiswa. Saking seringnya ke swalayan itu dan kepergok temen-temen sekelas, aku sempet tertuduh kerja paruh waktu di sana. Sebel.

Kembali ke rujak gobet. Udah rujaknya seger, es puternya juga seger. Jadi dobel seger deh. Manis-asem-sedikit pedes. Paling oke dimakan siang-siang.
Terakhir ketemu rujak gobet ini awal tahun 2008. Halah, dah lama banget. Kalo di Bandung, ada gak ya rujak kek gini?

Wednesday, August 4, 2010

Uji Gigi dengan Combring

Lagi demen nge-review makanan ringan nih. Kali ini tentang combring alias oncom kering. Semacam kripik berbahan baku singkong, dicampur remah-remah oncom. Ada dua versi, rasa gurih dan pedes, ukuran mini dan maksi.

Makanan ini sungguh menantang karena dibutuhkan gigi kuat untuk memamahnya. Semakin mini, semakin keras, soalnya makin tebel. Suara gemeretaknya bisa kedengeran dari radius beberapa puluh meter tuh, hahaha. Meski keras, dijamin kita nagih dengan rasanya yang gurih ato gurih pedes itu. Kalo gigi belum ngilu-ngilu, gak akan berenti ngunyah deh. Hehe.

Aku biasa beli combring dari seorang bapak sepuh asal Ciamis yang jualan di pasar kaget Gasibu, Jalan Diponegoro seberang Taman Cilaki, tiap hari Minggu. Harganya Rp 2.000 per bungkus kecil, isi 200 gram kali ya.

Surabi Cihapit (Setengah) Tradisional

Gak susah cari surabi di Bandung. Tapi, nyari surabi yang cocok di lidahku, itu yang gak gampang. Sekarang ini yang umum beredar model surabi Jalan Setiabudi yang teksturnya mirip martabak manis dengan aneka toping, mulai dari oncom, coklat, keju, sosis, mpe daging ayam. Dilengkapi saus mayones segala. Aku emang penyuka kue-kue bersarang, misalnya kue sarang semut (karamel) dan bika ambon, tapi enggak untuk surabi mirip martabak manis. Surabi bertekstur kek gitu tuh, meski enak, menurutku terlalu berat dan bikin eneg.

Ada lagi surabi jadul yang biasanya dijual ibu-ibu, pagi-pagi banget, fresh from the panggangan. Ini model surabi beras kek di Jawa Tengah, tapi dengan topping oncom atau telur. Aku gak terlalu suka surabi model ini karena porsinya jumbo. Liat aja udah kenyang.

Nah, belum lama ini, aku nyobain Surabi Cihapit dan langsung suka. Awalnya, tau tempat ini dari temen-temen Sel-B yang beberapa kali gowes trus sarapan surabi ini. Trus, ada temen kantor makan surabi kinca yang tampak enak, dan ternyata juga bermerek Surabi Cihapit.

Penasaran, akhirnya nyobain lah, nitip OB kantor. Pertama kali, uji coba surabi kinca. Bergenre surabi dari tepung beras, rasanya gurih, berasa kelapanya, trus yang paling penting ukurannya imut. Makan satu kurang, makan dua baru pas. Hehe. Lain hari, beli surabi oncomnya. Enak juga. Gurihnya surabi bersatu padu dengan pedesnya oncom. Yummy deeeh.

Pernah juga cicipin surabi pisang coklat. Tapi mesesnya kebanyakan, terlalu dominan, bikin gurihnya surabi tenggelam. Trus kalo surabi pisang, pisangnya tuh banyak banget. Cuma, menurutku rasa pisang ama surabinya kurang kompak. Jadi, peringkat teratas tetep surabi oncom dan surabi kinca.
Puas makan surabi enak tanpa nyambangin tempatnya langsung sepertinya gak afdol. Jadi, aku sempetin bertandang ke tempat jualannya di Jalan Cihapit, di depan Toko Djitu. Tempatnya gak representatif untuk kita makan di tempat. Cuma ada bangku panjang dan beberapa kursi plastik, tanpa tenda, apa lagi pilihan minuman. Jadi, kalo keukeuh mo makan di tempat, disarankan datang pagi-pagi (karena siang dikit pasti panasss). Jangan lupa juga bawa minum.

Selain itu, siap-siap menunggu lama. Soalnya nih surabi banyak penggemarnya, kebanyakan dari mereka bermobil, trus belinya dalam partai besar. Jarang-jarang yang bersepeda dan beli dengan porsi personal :D

Oya, meski mengklaim tradisional, surabi ini dimasak pake kompor gas, makanya aku bilang setengah tradisional, wkwkwwk. Mungkin biar cepet ya, karena pembelinya banyak. Tak apalah, selama rasanya cocok di lidah. Asal tau aja, Mahanagari nobatin Surabi Cihapit ini sebagai "pancake jawa" terenak di Bandung lhooo :)

Surabi Cihapit
Jalan Cihapit
Jalan Brigjen Katamso (deket pertigaan Supratman/Plasa Telkom)
Jalan Banda (deket Jonas Photo)
Harga: Rp 1.500-Rp 3.000-an
Buka: pagi sampe jam 11.00 trus sore jam 15.00 buka lagi (gak tau mpe jam berapa)