Monday, January 4, 2010

Sarapan Sengsara ke Warung Lela

Rasanya udah lama enggak keliling mencari tempat makan baru a.k.a wisata kuliner. Nah, tanggal 31 Desember lalu, bertepatan dengan ulang tahun pertama si Metro (sepeda lipetku), dan otomatis juga sepeda lipet tetangga, si tetangga ngajakin gowes nyari sarapan ke Warung Lela di Rancakendal, daerah Dago atas banget sana.

Berangkat dari kos udah rada siang, jam 08.30, mengambil rute Jalan Suci-Jalaprang-Cikutra-Cigadung-Rancakendal. Kalo dikilometerin sih, paling 7 km, gak terlalu jauh. Tapi medannya menyengsarakan, terutama setelah masuk Cigadung. Mana sempet salah belok, sampe daerah perbatasan Kabupaten Bandung, kalo ga salah Kecamatan Cimenyan, yang selama ini hanya aku tau dari koran. Itu juga jalannya udah nanjak, jadi udah ngabisin energi :((

Singkat cerita, setelah jalan nanjak sambil nuntun sepeda (jelas nuntun karena medan sering ga memungkinkan buat gowes), aku berkali-kali berenti karena capek, dan ngabisin bekal air 500 ml, akhirnya sampe juga di Warung Lela. Kata Indah sih warungnya ada dua, tapi kami menuju yang paling deket ajah.

Mas-mas pramusaji dengan sigap ngangkatin sepedaku untuk diparkir di pelataran atas, deket joglo tempat makannya. Tempatnya adem, banyak pohon, dengan meja-kursi makan dari kayu. Kek di rumah nenek :p

Oya, Warung Lela itu nyediain aneka olahan mi, dari yamin, bakso, ampe mi ayam. Ada juga sih olahan bukan mi, misalnya nasi lidah (weeekk, nggak menarik).Aku pesen mi ayam jamur spesial. Mi ayam jamur ini konon yang dijagokan di sini. Indah pesen mi ayam rica-rica. Sementara untuk minumnya kami pesen es kelapa muda dan es cincau (enggak pake laura...heheh..garing).

Mi-nya tipikal mi buatan sendiri, kecil-kecil gitu. Potongan ayam n jamurnya gede-gede dalam porsi yang ga basa-basi dan bercitarasa manis. Kek dibacem. Kurang cocok sih dengan seleraku yang ga begitu doyan manis. Tapi untung masih tertolong dengan mi dan kuahnya. Kalo yang di rica-rica, potongan dagingnya terlihat terbalut bumbu merah, garang gitu, tapi menurut Indah pedesnya kurang meresap ke dalam.

Untuk minumannya, ya bener-bener jadi pelepas dahaga setelah perjuangan berat menuju tempat ini. Tapi emang enak sih, abis sepedaan trus duduk-duduk, makan n minum di joglo terbuka, yang udaranya masih bersih. Andaikan jalan menuju ke sana ga banyak tanjakan....

Warung Lela
Jalan Kupa No 6, Rancakendal, Bandung
Telp 022-2501396
Makanan: Rp 12.000-Rp 20.000-an
Minuman: mulai Rp 5.000-an
Ada juga aneka makanan kecil, permen, n cokelat imut

Sunday, October 11, 2009

Sushi Boon, Sushi Enak-Murah-Repot

Ini dia sushi kaki lima yang lagi happening di Bandung. Mangkal dalam sebuah mobil yang disulap jadi dapur sekaligus ”mini bar”, Sushi Boon mangkal di depan toko sepatu Edward Forrer, seberang FO Level, Jalan Dago. Kalo dari bawah sebelah kiri jalan, sebelum Simpang Dago.

Gak tau sejak kapan warung mobil sushi ini ada, tapi masih termasuk gres dan rame-ramenya pembeli. Sabtu (10/10), aku dan temen-temen nyempetin ke sana. Penasaran juga sih kek apa sih sushi yang sedang rame diperbincangkan orang se-Bandung ini (lebay!).

Kami datang jam 15.00-an dan tempat itu dah rame sama anak-anak muda. Setelah itu datang juga rombongan keluarga. Rame deh. Padahal habis ujan dan masih bersisa rintik-rintiknya. Kok enggak pada males yak?

Tanpa buang-buang waktu, kami mencermati daftar menu, lalu pesen. Pesenan kami dicatat dengan nomor 25. What??! Padahal kami dah laper bangettt. Tapi apa boleh buat. Kami pun menunggu, duduk di kursi plastik yang tersebar di sekitar mobil Sushi Boon.

Pas pesenan dah sampe nomor 23-24, terjadi sedikit kekacauan akibat ujan yang mulai menderas. Para pembeli berlarian ke tempat yang teduh. Trus kursi-kursi plastik dikemasi ama pegawai Sushi Boon.

Beruntung mas dan mbak urutan 23 makannya cepet selesai, dan pesenan nomor 24 adalah pesenan dibawa pulang. Ya udah kami langsung menduduki salah satu sisi ”mini bar”, berempat duduk berdesak-desakan.Gak lama kemudian pesenan kami datang satu demi satu. Pertama, Craby Baby. Sushi isi ikan dori. Nasinya ada bintik-bintik pink entah apa itu. Rasa sushinya sendiri rada-rada manis gituh. Selanjutnya adalah Godzilla, sushi isi apa ya? Lalu, Rolling Stones, sushi isi sapi teriyaki. Di dalemnya ada semacam sayurnya juga. Trus sebagai topping-nya ada lelehan keju. Yang ini enak. Ada aroma bakar-bakarnya. Hahaha. Terakhir, Spiky the Spicy. Nah, ini sushi rada aneh, yaitu sushi goreng isi tuna panggang. Pas belum dipotong-potong tampak seperti belut goreng jumbo. Soalnya itu sushi terbungkus rumput laut trus digoreng pake tepung.

Jujur, kemaren gak bisa menikmati dengan santai. Makannya buru-buru karena ujan trus antrean yang panjang. Jadi gak bisa nge-review dengan detail. Cuma, yang jelas, nasinya pulen, walopun konon, menurut informasi dari sini, gak pake beras jepang. Trus variasinya juga banyak. Ada juga yang mentah. Lain kali datang lagi ah, di jam yang sepi pembeli. Kira-kira jam berapa ya? Kesimpulannya, dengan kisaran harga Rp 12.000 (ato Rp 15.000) sampe Rp 29.000 per porsi, sushi kaki lima yang mengusung konsep "makan sushi dengan gaya berbeda" ini layak dicoba kok.

Ada beberapa tips kalo mau ke sana. Pertama, pastikan cuaca cerah agar kita bisa duduk tenang di area Sushi Boon yang tanpa tenda peneduh dan meja itu. Atau, kalau tetep mau ke sana pas cuaca hujan, sebaiknya bawa mobil agar bisa makan di mobil. Alternatif lain, pesen sushi di Sushi Boon, trus pesen minum di CafĂ© Ali Baba di sebelahnya. Nah, makanlah di kafe itu. Kalo si pemilik kafe gak protes loh yaaaa… Atau, pesen aja buat dibawa pulang. Tapi kemasannya gak asik ah, styrofoam. Gak ramah lingkungan dan juga gak gaya. Hehehe. Info lebih lengkap, bisa klik www.sushiboon.com. Ada juga di Facebook.