Thursday, December 11, 2008

Stroopwafel, Rasakan Sensasinya!

Oleh-oleh bakpia dari Jogja? Itu sih udah biasa. Mau yang gak biasa? Ini nih, oleh-oleh dari Jogja rasa Belanda. Dibawain ma tetangga sebelah yang baik hati dan suka berbagi oleh-oleh. Kue ini boleh buatan Salatiga dan dibeli di Jogja, tapi sumpe deh, rasanya oke banget. Aroma rempahnya kuat, udah kecium sejak kemasannya dibuka. Jadi, sambil motret-motret, aroma rempahnya dah ke mana-mana. Sekeping stroopwafel ini, kalo dicermati, terdiri dari dua lapisan tipis wafel yang ditangkupin dengan lelehan stroop. Begitu masuk mulut, wafelnya empuk, dan stroop alias semacam karamel yang ada di tengah kue cepet lumer, engak alot. Rempahnya kerasa, trus manisnya juga pas. Cocok banget deh disantap di pagi yang mendung, ditemani kopi panas, sambil ngobrol ma temen-temen. Asal tahu aja, aku makan wafel ini bareng pasangan pengantin baru, yang pagi-pagi belom ada jam 09.00, dah melancarkan serangan fajar (yaiyalah, kalo sore mah serangan senja dong…), juga bareng si tetangga sebelah yang masih kriyip-kriyip abis bangun tidur.
Meski enak, aku ga bisa bilang rasanya otentik ya, secara belom pernah makan stroopwafel yang dibikin langsung di Belanda. Tapi jangan khawatir, karena pembuatan kue ini di bawah lisensi pabriknya di Negeri Kincir Angin sono. Lebih meyakinkan lagi karena ada website yang bisa diakses, di sini nih. Jadi, gak berlebihan kalo aku bilang kue ini, meminjam istilah tetangga sebelah, layak dibaleni.

*stroop (bahasa Belanda): setrup (sirup), cairan gula

Molen Stroopwafel
Produksi: PT Putri Mawar Sari Salatiga
di bawah pengawasan v/d Molen Holland Belanda
dibeli di Essen Roti dan Kue, Jalan Gedong Kuning, Yogyakarta

Mom's Bakery, untuk Hidup Lebih Sehat

"For a healthier life". Begitulah tagline yang tercetak di kotak kue produksi Mom’s Bakery (mamanya siapa ya, yang bikin?). Dari luar, toko roti dan kue di Jalan Progo No 18 Bandung ini tampak tidak meyakinkan. Kecil dan sepi. Itulah mengapa sampe hampir tiga tahun tinggal di Bandung aku gak pernah tertarik untuk masuk.

Sampe suatu malem, aku, Indah, dan Indri (teman kos), ngobrol-ngobrol dan sampelah ke topik tentang roti gandum. Indri bilang, roti gandum Mom’s Bakery direkomendasikan oleh seorang dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Beberapa hari kemudian, Indah yang emang doyan roti gandum meluncur ke sana. Beli roti gandum kismis dan roti manis kismis. Khusus buat aku, dia beliin carrot cake. Gak puas hanya dioleh-olehin dan diceritain, akhirnya aku pun menyempatkan diri ke sana pada kesempatan berbeda. Pengen tau dengan mata kepala sendiri, kek apa sih isi toko kue itu.

Tokonya emang kecil, hanya menempati bagian depan rumah si empunya. Ternyata gak melulu juwalan roti gandum, tapi juga ada blueberry cake, carrot cake, brownies, kue kering, jajan pasar (pastel, arem-arem beras merah), aneka roti manis isi (keju, pisang, kismis), sampe opera cake. Masing-masing item dalam jumlah gak terlalu banyak. Roti gandumnya sendiri ada beberapa macem, antara lain roti gandum kismis, roti gandum oatmeal, trus roti gandum tanpa gula dan butter. Untuk roti gandum, aku paling suka roti gandum kismis karena udah ada manis-manisnya dan taburan kismis. Jadi gak berasa makan bekatul gituh :p Untuk yang tanpa gula dan butter, rasanya tawar dan menurutku lebih berat. Enaknya, karena tawar, kita bisa lebih bebas kasih toping, bisa manis ato asin. Mo dikasih selai hayuk, dikasih abon pun jadi.

Untuk roti manis, baru cobain yang kismis ma pisang. Di lidahku, roti isi kismisnya lebih enak karena si kismis nge-blend ma rotinya. Kalo yang isi pisang, karena pisangnya kurang mateng, rasanya jalan sendiri-sendiri alias kurang menyatu.

Oya, ada macaroni schotel jugak dalam kemasan cup kertas. Meski kurang berasa tendangan bumbunya (mungkin karena konsepnya makanan sehat kali ya), rasanya masih terbilang enak. Ada taburan keju di atas, juga irisan daging asap di dalamnya.

Dari semua yang pernah aku coba, aku paling suka carrot cake. Carrot cake-nya dibuat dalam cup kertas. Gulanya, kalo gak salah, pake brown sugar ato gula kastor. Rasanya rame, ada rasa rempah, manis taburan kismis, dan serpihan wortel parut (tapi dah gak berasa langu wortel lho). Cocok deh sebagai salah satu alternatif cemilan sehat :D Ayo, hidup sehat!!!

Mom’s Bakery
Jalan Progo No 18 Bandung, telp (022) 4235383
Buka : 07.00-19.00 (Minggu buka 09.00)
Roti gandum : Rp 11.000 ke atas
Roti isi : Rp 5.000-an
Carrot cake : Rp 5.000-an
Macaroni : Rp 5.000-an
Brownies : Rp 25.000-an (bisa potongan)

Thursday, November 20, 2008

Warung Tenda Dimsum

Warung tenda menyajikan soto, bakso, lomie, pecel lele, atau ayam goreng, itu udah biasa. Ada banyak, berderet-deret di pinggir jalan. Tapi, kalo warung tenda jualan dimsum, ini baru luar biasa. Mungkin bukan satu-satunya di Bandung, tapi aku baru liat di Jalan Ambon, seberang SMPN 7. Sebenernya dah lama aku tau tempat itu, tapi karena lokasi warungnya gak menarik, belom kesampean juga kesana. Males.

Kalo akhirnya aku datang ke sana, itu karena dikomporin ma Indah. Ternyata dia udah duluan icip-icip, kesengsem, trus mau balik lagi.

Ya udah, suatu Sabtu, kami meluncur ke sana siang-siang abis ujan. Di negeri asalnya sono, dimsum tuh biasanya buat makan pagi atau temen minum teh. Tapi, berhubung kami laper siang-siang, ya akhirnya si dimsum jadi menu utama santap siang deh.

Kami pesen empat macam menu: hisit kau (isi seafood), hakau (isi udang), lumpia seafood goreng, ama ceker saus (yang ini sih Indah doang yang doyan). Masing-masing porsi terdiri dari 3-4 buah ukuran kecil-kecil. Jadi, kalo laper, ya gak nendang banget-banget kalau cuma pesen satu macem. Enaknya, makan dimsum tuh rame-rame biar kita bisa cicipin banyak macem. Kami cukup puas dengan rasanya. Dari empat menu yang kami pesen, aku paling suka dengan bentuk hakau yang kerut merut transparan. Berdasarkan info dari berbagai sumber, konon itu merupakan efek dari tepung tang mien, yang emang khusus buat bikin hakau. Cuma, ketika diambil pake sumpit, kulitnya cepet robek. Kalau menurut mbak Janti di multiply-nya, ini karena si hakau terlalu lama dikukus. Untuk rasa, aku lebih suka hisit kau dan lumpianya. Lebih punya taste alias lebih berbumbu, sementara si hakau lebih plain. Isi hisit ma lumpianya sama-sama seafood, jadi rasanya mirip. Bedanya, satu dikukus, satu digoreng. Tapi, sama-sama gurih kok.

Btw, dalam dua minggu kami datang dua kali lho ke tempat ini. Kunjungan kedua, Indah berhasil ngomporin saudara kembarnya dari Jakarta untuk ikut serta :D Lumayan nih bertiga, jadi menu yang kita pesen bisa lebih banyak. Kami pesen hisit kau, hakau, lumpia seafood, kwotie, dan siomay ayam udang. Kwotie-nya hampir sama ama hisit kau, bedanya cuma digoreng.

Ya, secara umum hidangannya enggak mengecewakan untuk ukuran kaki lima. Tapi yaaa… bersabarlah kalau mau makan di sini soalnya tempatnya berdiri di atas saluran air alias got. Gak bau sih, cuma yaaa…namanya got. Tetep aja bukan tempat yang asik. So, kalau Anda termasuk jijikan, mending pesen untuk dibawa pulang aja. Eh, tapi kan kalo dibawa pulang dimsumnya udah dingin ya, mana enak? Kalau mau nekat makan di tempat, seperti kami yang ke sana siang-siang dan habis ujan pula, sebaiknya pilih meja paling kanan (kanannya arah Jalan Banda ya) soalnya lebih beradab :p Beradabnya kenapa? Liat sendiri deh.

Oya, selain dimsum, warung tenda ini juga menyediakan lomie dan yamien. Beda sih keknya yang jual, tapi mereka berkolaborasi gitu. Kata Indah yamien-nya enak. Well, sekian dulu laporan tentang makan dimsum dari pinggir jalannya.

Warung Tenda Dimsum
Jalan Ambon, seberang SMPN 7 Bandung
Kisaran harga : Rp 7.500-Rp 8.500
Buka : jam 09.00-17.00

Tuesday, November 18, 2008

The Grill, Makan Steak Tanpa Rasa Bersalah

Hampir bisa dipastikan, agenda hari Sabtu tuh menumpuk lemak. Setelah olahraga di pagi hari, siangnya aku dan tetangga sebelah buru-buru mengembalikan timbunan lemak yang sempat terbakar, dengan porsi yang pastinya jauh lebih banyak :D Kami selalu menghibur diri dengan bilang, ”Ah, gapapa. Ini kan weekend.” Hehehe.

Perburuan kali ini mengarah ke wilayah Dago, tepatnya di The Grill yang juwalan steak dan burger. Kami datang tanpa ekspektasi macem-macem, secara tempat ini relatif baru dan tempatnya kecil. Trus kami juga udah telanjur mengidentikkan steak enak di Bandung itu dengan Suis Butcher (belom sempet ngereview nih…). Ini juga ngereview-nya keduluan jeng Femi. Padahal dia datengnya belakangan. Hehehe. Gini ni kalo males apdet blog.

Tempatnya memang kecil, tapi penataannya mayan oke. Maka, jadilah tempat ini asik buat nongkrong. Dinding merah tuanya dihiasi foto-foto menu yang ada di The Grill.

Setelah ngeliat-liat daftar menu, kami pun menentukan pilihan masing-masing. Aku pilih menu yang ada ikon best seller-nya, yaitu Steak Ala Dago, sementara tetangga sebelah mesen menu dengan ikon chef’s remommendation, yaitu French Mustard Sirloin. Gak perlu cemas, gak perlu ragu, di sini semua menu ada deskripsinya. Jadi kami bisa bayangin apa aja isinya. Kalo masih kurang yakin, pelototin aja foto-foto di dindingnya (kalo menu yang dipilih ada fotonya sih :p). Menu best seller ditandai dengan gambar dua sapi, trus chef’s recommendation ditandai dengan gambar satu sapi.

Meski tadi udah baca-baca daftar menunya, begitu ngeliat penampakan aslinya kami takjub juga. Steak bersanding ama bayem!!! Seumur-umur baru kali ini liat. Kalo steak berduet dengan wortel-buncis-jagung manis sih dah biasa yaaaa. Steak Ala Dago tuh isinya tenderloin oven yang digulung dengan isian bayem, jamur, dan mozzarella yang meleleh (sluuurp!) trus disajikan bareng kentang panggang dan pakcoy. Lihat tampilannya. Keren kan? Gak heran kalo bikinnya rada lama, dan harganya juga paling mahal. Rasanya sih gak usah diragukan lagi. Kek makan lumpia tapi kulitnya dari daging tenderloin, trus isinya bayem campur jamur dan keju mozzarella yang meleleh-leleh. Endang surendang deh. Tapi, lelehannya gak semeriah di foto sih. Fotonya menipu tuh, mentang-mentang dipajang, kejunya dibanyakin. Biar lebih dramatis. Huuuu…

French Mustard Sirloin, sesuai namanya, berisi sirloin panggang yang disajikan bareng bayem, jagung manis, dan kentang cream cheese. Sempet icip-icip sedikit, enak juga. Yang memesan menu ini pun tampak menikmati makanannya.

Makan steak dengan sayuran hijau berasa sehat banget lho. Seimbang gitu gizinya. Kalo biasanya makan steak merasa bersalah karena nimbun-nimbun lemak dan kolesterol, sekarang gak lagi deh.

Sayang, minumannya sangat biasa, malah kayaknya pake ramuan instan. Mbak Tita yang pernah ke sini juga bilang gitu tuh. Kalo mau liat penampakannya versi komik belio, langsung aja ke sini. Oiya, kami juga sempet pesen es krim, buat membunuh waktu karena di luar ujan deres banget. Seperti tampak di foto, es krimnya terdiri dari tiga scoop dengan tiga rasa: vanilla, coklat, dan stroberi. Rasanya sih standar es krim pabrikan. Kami pesen es krimnya satu doang, karena udah cukup kenyang dengan steak. Tapi si mbak tanggap juga, langsung kasih kami dua sendok tanpa diminta :p

Sepertinya perlu dijadwalkan lagi buat ke sini nih. Masih banyak menu yang layak dicoba. Burgernya keliatan menarik. Kami sempet liat waktu pengunjung di seberang meja mesen burger. Trus, ada lumpia buah segala. Siapa mau ikut (dan nraktir)??? :D

The Grill
Jalan Ir H Djuanda (Dago) 342D, Bandung
Steak Ala Dago : Rp 33.800
French Mustard Sirloin : Rp 29.800
Pajak 10 persen
(Harga makanannya emang pake akhiran 800 semua…)

Monday, November 17, 2008

Maple Snuggles, Sarapan Sepanjang Hari

Tempat makan mungil di Jalan Laswi, Bandung, ini udah lama aku incer. Tertarik aja sih ama namanya yang unik. Udah gitu, taglinenya juga asoy geboy, ”All Day Breakfast”. Jadi makin penasaran. Itu tempat jualan apa sih? Berhubung pertama kali liat cuma sekilas, nama tempat itu di otakku melenceng jadi Muggle Smuggle. Sampai-sampai pas aku nanya di milis Jalansutra (JS), ada yang nyautin, ”Emang Harry Potter?” Menurut review beberapa sahabat JS yang pernah makan di sana, menunya biasa aja. Malah ada yang bilang kurang nendang.

Tapi, gak ada salahnya dong nyoba. Biar gak penasaran terus. Sebagai antisipasi, aku dah kasih peringatan dini ke dua temenku, ini dan ini, biar gak menaruh harapan kelewat tinggi. Maka, suatu pagi, sehabis olahraga, meluncurlah kami ke tempat itu.

Tempatnya kecil banget ternyata, dengan interior dominan warna merah dan hitam. Dindingnya dicat merah. Di satu sisi, ada bagian dinding yang terbuat dari kayu bercat item buat nulis menu. Tulisannya pake kapur. Tempat duduknya ada dua model, sofa dan kursi kayu. Karena sempit, gak asik banget tuh kalo banyak pengunjung. Untung pas kami datang lagi sepi. Oya, sampe lupa. Tempat ini menjual aneka pancake dan wafel, dari yang manis sampe yang asin. Kita bebas milih, mau pake pancake atau wafel. Karena dah biasa bikin pancake dengan topping manis, kali ini aku cobain yang asin ajah. Begitu juga dengan kedua temanku. Maka, menu yang jadi santapan pagi kami adalah spaggio (pake pancake), sausage n mayo (pake wafel), dan wafel tuna (aduuhhh nama resminya apa ya, lupa).

Spaggio pancake itu pancake ditemenin daging cincang yang dimasak dengan saus pedes manis gitu, trus ditaburi keju parut. Kalo sausage n mayo wafel, itu wafel plus sosis plus mayones. Trus tuna wafel, wafel yang disajikan bareng olahan ikan tuna pedes plus jagung manis. Dari ketiga menu yang kami pilih, spaggio paling normal. Rasanya lumayan. Sausage n mayo, sosisnya biasa banget, begitu juga dengan mayonesnya. Untuk wafel tuna, ikannya gak seger. Jadi kurang oke. Kalo ikan tunanya seger sih, menu itu yang bakal jadi juara. Untuk tampilan, wafel tuna ini boleh juga. Secara umum, wafel dan pancake-nya menurutku terlalu asin, kalo tekstur mayan oke lah. Beda ama pancake buatanku yang teksturnya agak berat, di sini pancake n wafelnya lebih lembut dan ringan. Gak tau tuh komposisi adonannya apa aja. Untuk minuman, standar jugak. Cuma ada teh Dilmah yang kesohor itu lho.

Okay, terpuaskan juga akhirnya menyambangi Maple Snuggles, rumah sarapan aneka pancake dan wafel. Gak penasaran lagi deh. Tapi nanti kalo pengen pancake lagi, bikin sendiri aja ahhhhh :D

Maple Snuggles
Jalan Laswi, Bandung, sederetan ma RM Bumbu Desa dan Cizz
Kisaran harga makanan: belasan ribu rupiah
Pancake/wafel satuan : Rp 4.000

Sunday, October 26, 2008

Abon Enak = Harus Manis

Kesimpulan ini aku buat sepihak setelah nyicipin abon yang rasanya di luar mainstream perabonan. Halah. Pas cuti Lebaran kemaren aku sempetin ke kios Sri Andhini Sakti di kawasan Pasar Kranggan, Jogja, untuk membuktikan apa bener produk-produk mereka recommended seperti kata Intisari. Seperti biasa, kalo sebuah tempat berkuliner dah direview di media, aku selalu jadi tertarik nyobain.
Pas ke sana, kiosnya sepi dan mbaknya jutek (gak ada hubungannya yak). Mungkin karena aku cuma gak terlihat bakal menambah pundit-pundi pendapatan mereka secara signifikan. Dan memang iya sih, aku cuma beli dua bungkus abon pedas @ 100 gram dan 250 gram dendeng. Karena aku gak terlalu suka makanan manis, kupikir abon pedes cocok buatku.

Ngendon cukup lama di kotak penyimpanan makananku, akhirnya si abon dapat giliran juga buat dicicip2. Ditaburin di roti tawar yang dah diolesin margarin, jadilah sandwich abon. To my surprise, rasa pedesnya gak kira-kira untuk ukuran abon. Padahal aku termasuk suka pedes loh. Gak ada sentuhan rasa manis juga, yang menurutku harus melekat di abon. Setelah diliat lebih seksama, emang taburan biji cabenya banyak banget. Mpe langu cabenya kerasa. Singkatnya, aku gak begitu cocok dengan rasa abon ini. Cuma untuk gak mrinthil-mrinthilnya, abon ini cukup top. Juga gak alot.

Pendapatku ini diperkuat sama tetangga sebelah. Dia juga bilang abon ini terlalu pedes. Apalagi dia gak terlalu suka pedes. Kebetulan juga dia punya abon, gak tau mereknya apa, katanya sih dari Solo. Bungkusnya kertas buram, ada tulisannya "abon pedas", trus dilapisi plastik. Sederhana banget deh kemasannya. Tapi untuk rasa, menurutku lebih kaya. Soalnya, selain ada rasa pedes, rasa manisnya juga gak ilang. Lebih punya taste, gitu kata Indah. Jadi, abon enak itu harus manis. Eits, gak boleh protes….

NB: Untuk dendeng lumayan enak, manisnya kerasa. Tapi karena aku nggorengnya kelamaan, setelah dingin jadi keras.

Kios Daging dan Abon Sri Andhini Sakti
Pasar Kranggan, Jogja, gak jauh dari Tugu Jogja
Abon @ 100 gram : Rp 18.000
Dendeng @ 250 gram : Rp 36.000 (kalo gak salah :p)

Kuaci Gak Pake Repot

Hari gini, semua-mua dibikin gampang, simple, gak ribet. Kuaci pun gak mau kalah lho. Kalo biasanya kita makan kuaci harus bersusah payah ngebuka kulitnya pake gigi untuk bisa menikmati isinya yang ukurannya gak seberapa besar itu, yang mana itulah seninya, beberapa waktu lalu seorang teman membawa kuaci biji bunga matahari tanpa repot. Kenapa tanpa repot? Soalnya, kuacinya udah dikupas. Jadi gak beda ma makan kacang bawang gitu deh. Gak tau deh prosesnya gimana, yang jelas tampilannya agak berminyak gitu. Mungkin digoreng pake minyak. Padahal, kalo kuaci biasa, disangrai kan, atau dioven ya? Oya, trus kuaci versi ini kecil-keciiiil banget. Kalo biasanya kuaci biji matahari itu agak gede dan pipih, yang ini kecil tapi agak bulet. Rasanya gurih, cuma gak ada sensasi rasa asin yang biasa kita dapet saat gigi-gigi kita mengupas kulit kuaci :D Udah dibikin gampang, masiii aja protes!

Kuaci Biji Bunga Matahari
CV Bunga Matahari, Blitar (silakeun di-googling untuk alamat lengkapnya)

Thursday, October 16, 2008

Parade Oleh-oleh Lebaran

Kembali ke kantor sepulang dari mudik, dalam rangka apa pun, hampir wajib hukumnya bawa oleh-oleh. Gak ada yang mengharuskan sih, tapi itu dah jadi kebiasaan turun-temurun kayaknya. Jangankan mudik, pulang dari dinas luar kota aja pada bawa oleh-oleh. Gak mengherankan, banyak dari kami, termasuk aku tentunya :p, yang jadi gembul gara-gara ngemil mulu.

Nah, berikut ini oleh-oleh Lebaran 2008 yang berhasil aku abadikan dari ”meja persembahan” di kantor. Sebagian gak sempet aku dokumentasikan karena aku belum balik dari mudik, atau pas gak bawa kamera.

Bukan Khas Jogja

Pulang mudik, aku bawa oleh-oleh emping melinjo, kacang polong tepung, kacang bawang, jenang krasikan, dan madu mongso. Bukan khas Jogja, bukan pula khas Gunungkidul, tapi asli dibawa dari sana :D. Aku sengaja bawa makanan yang gak makan tempat dan bisa dicemal-cemil. Emping melinjonya hasil panen dari kebon sendiri lhooo, tapi bikinnya memanfaatkan jasa pembuat emping. Tinggal terima jadi gitu. Kacang bawangnya homemade, tapi beli di tempat sodara. Kacang polong tepung juga beli. Madu mongso dan krasikan? Beli juga, di supermarket. Makanan yang konon khas Muntilan ini jadi pilihan terakhir karena pilihan utamanya abis. Apa itu? Rahasia…. Yang jelas gak khas Jogja juga. Klethikan dariku ini ternyata dapet sambutan lumayan meriah, cepet habis maksudnya. Mungkin karena temen-temen dah bosen ma timpukan kue-kue kering selama ini. Cuma madu mongsonya aja yang bertahan sampe hari berikutnya, walopun habis juga akhirnya.

Permen Asem
Seplastik besar permen asem, ada kali sekilo, yang dibawa Faiq dari Lamongan, ikut menyemarakkan sesaji Lebaran. Rasanya asem bener. Ya iya lah, asem gitu loh. Sekilo permen itu banyak kaaaan? Tapi abis juga tuh, karena ada pemangsa utamanya, siapa lagi kalo bukan Adi. Bahkan permen yang udah kusingkirkan di toples pribadiku pun diembat ma dia. Tanpa tersisa satu pun!!!

Bakpia Merlino
Sehari kemudian, meja persembahan dipenuhi oleh-oleh dari Jogja, bawaan Indah. Kue kering coklat dari rumah, Pia-Pia Molek, dan Bakpia Merlino. Tapi yang kejepret cuma Bakpia Merlino-nya. Itupun tinggal bungkusnya doang. Bakpianya dah ludes ama anak-anak. Bakpia non-Pathok ini emang cukup istimewa. Gak salah kalo masuk dalam rekomendasi Intisari seri jajanan Jogja. Rasanya laen daripada yang laen. Indah bawa rasa cappuccino dan green tea. Cappuccino-nya top banget, tapi green tea-nya gak begitu oke. Ukuran bakpia ini mut-imut. Beda ma bakpia produksi Pathok. Jadi makan satu gak bakalan kenyang deh. Karena bakpianya imut-imut, kotaknya pun imut. Kira-kira segede snack box dari toko kue (kalo kita beli kue-kue kecil satuan) ato snack box rapat. Semacam itulah.

Roti Mandarijn Orion
Oleh-oleh berikutnya datang dari Solo, bawaan Mas Dicky. Mandarin kismis. Roti Mandarijn Orion ini emang jadi salah satu ikon oleh-oleh Solo dan sudah ada sejak 1922 (sesuai yang tertulis di kotaknya). Kuenya lembut dan lebih ringan dibandingkan kue mandarin dari toko kue yang laen. Kue ini juga ludes dalam waktu singkat. Abis kurang banyak sih bawanya..Huehehehe. Ngarep.

Lepet Ketan
Lepet ketan dari Pasuruan menyusul beberapa hari kemudian. Sayang aku pas gak bawa kamera, jadi gak sempet mengabadikan penampakannya. Lepet ini dibuat dari ketan, trus dibungkus daun (kelapa apa lontar yak??? gak jelas) dan diiket-iket tali rafia. Konon, kata Faiq, kalo gak salah denger, aslinya talinya juga dari daun lontar. Tar deh ditanyain lagi. Rasanya tawar, keknya gak dikasih bumbu, ato paling-paling garem. Lepet ini padet banget lho. Makan setengah aja dah kenyang.

”Bakpia” Thailand
Rada jauhan dikit, kali ini oleh-oleh datang dari negeri seberang, Thailand. Bukaaaan, bukannya ada yang pulang kampung ke Thailand, tapi kebetulan big boss ada dinas luar negeri beberapa hari setelah Lebaran. Jadi, pulang-pulang beliau bawa oleh-oleh dari sana. Padahal, kampung halaman belio sih Tasik :p Oleh-oleh yang dibawa banyak banget. Ada semacam bakpia, dan rasanya emang mirip banget, tapi ukurannya kecil-kecil berbentukdadu.

Ada lagi yang namanya ada kata ”phia”-nya. Bentuknya bulet-bulet, ada hiasan kismis di atasnya. Isinya semacam kumbu kacang juga. Trus, ada permen sejenis permen Yupi, rasanya kenyal-kenyal juga. Ada lagi sejenis ager-ager kering yang warna dan bentuknya kayak irisan tomat. Abis itu, sejenis nastar berbentuk hati, yang dalemnya ada selainya juga. Terakhir, lempok durian, yang di sana disebut ”monthong paste”. Dari sekian banyak makanan ini, yang ada label halal-nya cuma lempok durian ini. Yang laen gak ada. Berhubung tulisannya pake bahasa Thailand semua, ya anggep aja aman :p

Kemplang
Kemplang ini dibawa ama Mas Toto yang abis mudik dari Lampung. Rasanya mengingatkan aku ama kemplang yang biasa dibawa temen kuliahku dulu. Ikannya berasa dan sambelnya pedes banget. Makan kerupuk kek gini bikin gak berenti-berenti ngunyah.

Balik Lagi ke Jogja-Solo
Sepertinya ini jadi penutup dari parade oleh-oleh Lebaran tahun ini. Soalnya dah gak ada lagi yang pulang dari mudik. Arum yang mudik ke Solo, bawaannya justru geplak yang khas Bantul (Jogja). Seperti halnya aku, dia juga gak mau bawa yang ribet-ribet dan makan tempat. Selain geplak, dia juga bawa makanan khas Solo, kripik (krupuk?) ceker, sama sumpia yang entah sebenernya khas mana. Meski gak khas, yang namanya oleh-oleh, tinggal makan dan gratis, teteup aja enakkkk :p Aku tu sebenernya jijay ma ceker yang ditaroh di sop ato bakso ato yamin itu jijay, apalagi yang masih di ayam hidup. Tapi setelah dibikin kripik, kok doyan juga ya.
Gak cuma itu, ada lagi oleh-oleh Lebaran dari Semarang, kalo gak salah roti ganjel rel dari Mas Eri dan wingko babat dari Luhur. Karena mereka datengnya awal, aku gak sempet nyicipin. Tapi aku masih punya stok foto roti ganjel rel nih, oleh-oleh dari Mas Eri beberapa waktu lalu. Roti ganjel rel ini sama aja kayak roti gambang. Ada taburan wijen di atasnya. Ada rasa-rasa kayu manisnya gitu. Cocok buat temen minum teh. Oya, aku juga dapet oleh-oleh yang khusus lho. Dari Indah aku dapet hopjes kopi dan permen sarsaparilla. Kedua permen ini buatan PT Sindu Amritha, Pasuruan, yang juga bikin ting-ting jahe yang bungkusnya putih biru dan masih beredar di supermarket itu. Permen kopinya isi 9, sarsaparilla isi 11. Anaeh gak sih? Permen kok isinya ganjil. Permen kopinya enak, rasanya jadul banget. Meski termasuk kategori permen keras, pas diklethak (apa coba bahasa Indonesia-nya?) gak keras-keras a mat kok, bisa dibilang crunchy malah (emang keripik???). Rasa permen sarsaparillanya juga gak kalah jadul. Semriwing-semriwing kecut gitu deh. Trus, ada juga oleh-oleh petis rajungan dari Faiq buat aku dan Indah. Oleh-oleh yang pake mikir nih. Dipake buat masak apa ya? Rujak? Ada yang bisa kasih ide?

Wah, ternyata banyak juga oleh-oleh yang bisa kucicipin. Lebaran, mudik, bawa dan dibawain oleh-oleh emang nyenengin. Lebaran tahun depan masih ada lagi gak ya parade oleh-oleh kayak gini?

Wednesday, October 15, 2008

Rupa-rupa Zupa-zupa

Sup krim dengan puff pastry gembung di atasnya ini baru aku kenal di Bandung. Telat banget ya? Biarin deh, daripada gak sama sekali. Makannya juga gak di kafe, tapi di warung tenda samping kantor Telkom Japati, di arena pasar kaget Gasibu. Sup krimnya gurih, tapi mirip banget ma sup krim Royco :). Jangan-jangan mereka pake sup krim instan ya. Tapi untuk harga Rp 7.000, rasanya lumayan juga. Yang aku suka di sini justru kotak take away-nya. Warna orange-nya ngejreng pisan, sesuai sama nama produknya, Orange Zupa-zupa.
Selain Orange Zupa-zupa, ada juga zupa-zupa punya toko kue Primarasa. Harganya sedikit lebih mahal, Rp 9.000, tapi rasanya sebanding. Lebih gurih dan lebih banyak isiannya. Pastry-nya juga lebih krispi.
Kalo mau yang sedikit beda, coba juga zupa-zupa PT Kereta Api. Makan sambil berkereta api pasti membuat perjalanan lebih menyenangkan :p Ini zupa-zupa termahal yang pernah aku cobain, Rp 12.000an. Di rotinya ada taburan wijen. Isiannya juga cukup banyak, tapi seingetku bumbunya kurang nendang. Kesimpulannya, yang juara masih zupa-zupa Primarasa.

Sate Domrut di Terate 5

Buka puasa, tepatnya makan malam sih, di wiken ketiga ramadhan kembali diperuntukkan bagi cewek. Cowok dilarang ikutan. Cewek-cewek lantai 3 bisa juga ngumpul dalam formasi lengkap. Abis solat maghrib, kami berlima jalan kaki dari kantor ke Jalan Ternate. Target operasinya: sate domba garut alias sate domrut rekomendasi Arum.

Ternyata di sana gak cuma ada sate domrut. Nama resmi tempat makannya Ternate 5, yang punya slogan ”Good Place Meet Good Food”. Ini semacam kafe pujasera gitu, jadi ada beberapa gerai di sana. Ada Re Hot Burger, Soto Ambengan Surabaya dengan menu khas Surabaya, Sate Domrut dengan aneka olahan berbahan dasar domba garut, dan steak. Ada juga makanan yang enggak berat, kayak omelet dan spageti. Minumannya juga cukup lengkap. Ada coklat-coklatan, kopi-kopian, jus, dll. Es krim juga ada. Lengkap lah.

Paling enak duduk di sofa. Dengan lampu gak begitu terang, untuk tidak mengatakan remang-remang, tempat ini lumayan asik untuk berlama-lama nongkrong. Pas kami makan, tempat ini rame ama anak-anak muda yang datang berkoloni :D
Oke, langsung aja kita nikmati satenya. Sepuluh tusuk sate domrut spesial (bukan pake telur loh, melainkan minus lemak) pesenanku datang lengkap dengan sambel kacang dan sambel kecap. Satenya empuk, enggak prengus, bumbu minimalis. Pas ama sambel kecap dengan irisan cabe rawitnya, tapi bagiku gak cocok dimakan ama sambel kacang. Mayan enaklah menurutku. Kalo enurut Indah biasa aja, secara bagi dia sate lebih nikmat dimakan di warung, bukan di tempat bernuansa kafe. Hehehe.

Omelet daging asap yang dipesen Indah dinilai kurang memuaskan. Soalnya polosan gitu, gak ada lelehan keju di tengahnya. Daging asapnya juga gak serius, kecil-kecil dan dikit banget. Selanjutnya, gule sumsum domrut yang dipilih Arum tak luput juga dari cela Sumsumnya dikit. Terakhir, soto ayam dari gerai Soto Ambengan Surabaya pesenan Rini sepi komentar. Mungkin karena laper campur ngantuk, dia gak bilang apa-apa tentang makanannya. Aku juga sedang gak tertarik nyobain.

Melihat tempat dan variasi menunya, Terate 5 yang buka dari jam 11.00 sampe jam 24.00 ini cocok buat nongkrong dan ngerumpi. Lumayan, bisa jadi alternatif laen nih kalo mau nongkrong (padahal, sekarang juga dah jarang banget nongkrong malem-malem).

Stttt…, tapi ada yang nyebelin nih. Masa di deket pintu masuk ada banner iklan—maaf—pembalut wanita yang konon berteknologi bio. Parahnya lagi, di tiap meja ada leaflet iklan yang sama. Jadi, kalo boleh saranin nih, jangan buka-buka leaflet di meja sebelum makan kalo gak pengen kehilangan selera makan…Sumpe deeeh…

Ternate 5
Jalan Ternate No 5 Bandung
Sate domrut spesial (tanpa lemak) Rp 24.500
Gule domrut Rp 18.000
Omelet Rp 10.500
Soto ayam Rp 10.000
Jus melon dan stroberi @ Rp 7.500

Monday, September 29, 2008

Yang "Homemade" buat Oleh-oleh

Mudik, mau edisi lebaran atopun reguler, selalu menyenangkan. Satu yang ga boleh dilupain adalah oleh-oleh. Beruntung aku tinggal (sementara) di Bandung. Jadi untuk urusan makanan gak ada matinya. Selama ini, biasanya aku gilir aja tuh toko-toko kue di Bandung, kek Brownies Amanda, Kartikasari, Primarasa, Mayasari, dan Evita Klappertaart. Kadang2 juga ngubek di kios oleh-oleh di Pasar Kosambi buat beli keripik-keripikan ato aneka sale pisang.

Kali ini, aku mau yang homemade, dan pilihanku adalah banana cake ama carrot cake-nya Teh Uceu. Beliau ini tenar banget di milis2 perkuean. Beberapa resep kuenya beredar luas di kalangan ibu2 ato mbak-mbak yang suka dan pinter masak. Teh Uceu juga suka ngajar di kursus2 bikin kue. Liat aja deh blog-nya, ditanggung ngiler :p
Sebenernya aku gak kenal secara personal dengan Teh Uceu, hanya tau dari milis dan sering ngunjungi blog-nya. Tapi orderku yang ga seberapa ini direspons sangat baik :) Mule dr via email, sms, dan kemudian sempet kopdar sebentar pas serah terima pesenan di belakang Hyatt (seperti tampak di foto :D)

Banana cake-nya udah aku cicipin, enak, kerasa banget pisangnya (ketauan kalo gak puasa!). Kalo carrot cake-nya belum sempet nyicip. Tapi dari penampakan dan aromanya siih, keknya gak kalah yummy.
Buat Teh Uceu, makasi ya teh udah bikinin oleh-oleh buatku. Kapan-kapan boleh pesen lagi kan yaaaa? :)

Rumah Macaroni Salsa

Tau tempat makan ini dari sepupuku di Jakarta. Katanya ada liputan tentang rumah macaroni ini di tipi. Googling sebentar, dalam hitungan detik langsung kutemukan alamatnya, Jalan Culan No 1 Bandung. Dari Jalan RE Martadinata alias Riau, masuk lewat Jalan Anggrek.

Karena sesuatu dan lain hal, untuk pergi ke sana aku harus nunggu cukup lama sampe dapet kesempatan yang pas. Halah, kek apa aja. Akhir minggu kedua Ramadhan kemaren aku dan temen-temen cewek di kantor janjian mau buka bareng di sana meski ternyata yang nepatin janji cuma tiga orang, yaitu ini, ini, dan ini. Berarti gak ada wajah baru.

Kami datang abis maghrib. Rumah makaroninya imut dan sepi. Untung aja stok-nya masih mencukupi :D Aku pesen yang berbau-bau salsa, Macaroni Salsa dan jus Red Salsa. Indah pesen Lasagna Salsa. Trus Lisdha pesen Mac and Cheese. Minuman mereka gak usah disebut. Soalnya ni, mereka pesen minuman ringan produk massal yang gak ada istimewanya sama sekali :p Macaroni Salsa adalah daging sapi cincang pada lapisan paling bawah, makaroni di lapisan tengah, trus krim keju dan taburan keju (yang tentunya meleleh waktu dipanggang) di lapisan teratas, lengkap dengan bumbu Italia-nya. Perpaduannya oke. Enak!!!

Lasagna Salsa-nya juga enak. Komposisinya sih lebih kurang sama ama Macaroni Salsa. Beda di pasta doang. Mac and Cheese, ya makaroni campur keju. Ketiganya enak, tapi aku paling suka Macaroni Salsa.

Oh ya, aku sempet shocked dengan penampakan si Red Salsa, jus jambu campur sirsak yang ternyata segentong. Gede bangetttt porsinya. Rasanya standar, dominan jambu. Emang beneran jus sih, gak kayak jus di warung2 yang kebanyakan air daripada buahnya. Aku yang udah kenyang dengan Macaroni Salsa jadi kelenger. Untung ada yang mau bantuin minum..hehehe.

Oya, untuk porsi makanan, porsinya imut-imut lho. Mereka pake ukuran SS untuk paling kecil, XS di atasnya, dan S paling gede. Tapi, harganya gak ikutan imut. Ukuran paling imut dihargai dengan kisaran Rp 17.500, medium Rp 27.500, dan paling gede Rp 40.000. Mungkin karena bahan dasarnya daging, makaroni/pasta, dan krim keju, porsi kecil pun udah bikin kenyang, paling gak selama di situ. Kalo keluar dari situ, gak ada jaminan kenyangnya masih bertahan :D.
Menunya cukup banyak. Ada pastel tutup dan makaroni schotel juga, yang kapan-kapan mau kami cobain. Trus ada masakan Indonesia semacam nasi tutug oncom, nasi goreng ikan asin, dan nasi liwet yang dihargai kurang dari Rp 20.000. Trusss, ada brownies kukus, yang meski ketenarannya aku yakin kalah jauh dari Amanda, dibanderol dengan harga Rp 30.000.

Jadi, kapan Ndah kita kesana lagi????

Rumah Macaroni Salsa
Jalan Culan No 1 Bandung

Waroeng Unagi

Aku gak pernah tau tempat makan ini sampe suatu hari temenku, Atik, ngajakin ke sini. Sebenernya dia juga gak tau persis lokasinya. Tapi, berbekal alamat dan beberapa kali nanya orang, dengan bonus kebablasan ampe Dago Pakar, akhirnya ketemu juga deh tempatnya.

Namanya kedengeran kejepang-jepangan gitu ya? Hmm, emang bener ternyata, menurut Atik, unagi itu bahasa Jepang-nya belut. Gak tau apa yang membuat dia pengen banget ke sini. Entah ngidam ato karena abis baca review tentang Waroeng Unagi di tabloid Saji.

Sampe sana jam 11-an. Kebetulan emang dah laper. Jadi cocoklah, pas laper, pas di tempat makan. Warungnya gak begitu luas, tapi terdiri dari dua lantai, di lantai dua dan tiga. Lante dua diramaikan ama tampang-tampang mahasiswa, lengkap dengan laptopnya. Emang di sini ada fasilitas hotspot. Standar kafe-kafe masa kini gitu loh. Kalo lante tiganya enggak begitu rame. Di sini menurutku lebih asik karena bisa melihat pemandangan di sekeliling warung dari ketinggian, meski pemandangannya gak begitu istimewa. Ada rumah2 penduduk di satu sisi, dan ada view kos-kosan di sisi laen. Sisi laennya lagi, kita bisa sedikit lebih jauh memandang...halah....

Karena gak ada ide tentang menunya, kami pesen menu yang paling direkomendasikan ajah. Atik pesen Godzilla Egg Rice dan aku pesen Unagi Rice Burger. Untuk minum, es teh lemon dan Mix Berry. Kami harus menunggu cukup lama untuk makanannya. Untung tingkat laperku belom terlalu parah, jadi masih bisa nunggu dengan sabar.
Unagi Rice Burger itu burger nasi dengan isian daging belut dan atasnya ditaburi rumput laut. Beras dan belutnya konon dari Jepang. Belutnya empuk dengan rasa dominan manis.Nasinya biasa aja, lembek2 gitu deh. Sebenernya gak ada bedanya ma makan makan nasi belut. Kek makan pecel lele ala Jawa Timur di warung tenda itu loh. Hehe. Seumur-mur baru kali ini aku makan belut selain dibikin kripik. Pesen menu ini juga karena penasaran aja, bukan karena doyan. Dan pertama kali menyuapkan irisan belut ke mulut, agak-agak gimana gitu.

Untuk Godzilla Egg Rice, tampilannya cantik banget. Intinya nasi goreng yang dibentuk bola, kira-kira seukuran bola tenis. Tekstur kulitnya seperti kroket, dibungkus tepung roti. Di dalemnya ada telur bulet. Nasi gorengnya kerasa banget saus tomat. Manis. Terlalu manis malahan. Menurutku, akan lebih nendang kalo ada rasa pedes-pedesnya.

Mix Berry, jus stroberi campur bluberi yang aku pesen, terlalu dominan stroberinya. Secara keseluruhan, boleh lah ide dan inovasi Waroeng Unagi. Kapan-kapan bisa datang lagi buat nyobain menu yang laen.

Waroeng Unagi
Jalan Bukit Dago Selatan No 4 Bandung

Monday, July 28, 2008

Wisata Selera Indofood

Yuhuuu, akhirnya kesampaian juga ke Wisata Selera Indofood (selanjutnya kita sebut aja WSI). Pagi-pagi, abis mandi, aku jalan bareng Indah dan sobatnya, Femi, ke jalan ke Gasibu. Setelah sempet bersusah payah menerobos lautan manusia di pasar kaget Gasibu, akhirnya sampe juga kami ke arena WSI.

Penjelajahan dimulai dari sisi kanan lapangan. Indah yang suka nagih ama cimol tanpa alasan yang jelas itu nggak bisa nahan diri liat cimol isi di stan Batagor Aruni. Cimol gaya baru nih. Biasanya kan cimol tuh aci doang. Jadi rasanya kek makan lem aci di kantor pos itu. Hiiiii… Dengan seporsi cimol isi, kita dah bisa cicipin macem-macem isian. Ada keju, kornet, trus apa lagi yak? Lupa. Rasanya not bad. Itu berkat bantuan isinya kali ya. Kalo tanpa isian sih, aku ogah makan. Femmy pesen batagor di tempat yang sama. Lumayan juga. Tahunya lembut.


Dari situ kami pindah ke stan sebelahnya, Sayogi. Aku pengen tacos. Kata Indah, makanan ini berasal dari Meksiko. Setelah gugling di internet, bener juga. Versi aslinya berkulit lembek, kek twister-nya KFC itu. Ada juga versi krispi yang beken di Kanada dan Amerika. Btw, keknya aku pernah makan tacos versi lembek di Jalan Sultan Agung, di kompleks distro. Nah, kalo tacos yang di Gasibu ini udah disesuaikan dengan budaya setempat. Kerupuk yang digunakan apa lagi kalo bukan pangsit. Isinya daging sapi cincang, keju, dan sayuran. Seporsi isi tiga biji, yang langsung kami sikat bertiga. Pas lagi sibuk dengan tacos ini, ada mas-mas kameramen dari salah satu stasiun tipi lokal yang numpang nge-shoot. Hmmm, masuk tipi gak ya? :p

Kelar dengan tacos, kami cari mangsa yang laen lagi. Femmy tertarik sama nasi ungu dan pesen seporsi, lagi-lagi untuk diganyang rame-rame. Ungu nasi ini katanya berasal dari bit dan kedelai jepang. Emang kedelai jepang warnanya ungu ya???? Gak ada perbedaan menonjol dalam hal rasa antara nasi ungu dan nasi biasa. Aromanya tercium samara-samar aja, cuma rasanya sedikiiit lebih gurih. Mungkin karena campuran bit, kedelai, dan bumbu laen. Seperti nasi khas Sunda, nasi ungu ini juga ditemenin ama ayam goreng (yang sayangnya agak alot) dan tempe, plus acar kuning.

Gak puas sampe di situ aja, kami masih jalan lagi. Pilihan jatuh ke Sate Hadori yang sehari-hari mangkal di Stasiun Hall, tapi keknya juga punya gerai di salah satu mal di Bandung. Indah mesen satu porsi sate kambing tanpa nasi. Kambing yang dipake sepertinya kambing muda, dagingnya empuk dan juicy, dengan bumbu minimalis, yang mengingatkanku dengan sate kambing di rumah kala Idul Adha. Hehehe. Sayang, sambelnya pake sambel kacang, jadi menurutku kurang matching. Enakan ma sambel kecap aja....

Oya, karena yang ngadain acara Indofood, kami sempet agak kesulitan mencari air mineral. Secara Indofood gak punya produk air mineral, yang banyak tersedia justru Tekita, minuman teh rasa buah. Kurang puas aja rasanya makan macem-macem tanpa ada air putih (mineral). Beruntung ada pedagang asongan yang menyelundup ke arena WSI. Jadi bisa dicolek. Tapi, ternyata air mineralnya abal-abal dan rasanya aneh banget.

Puas makan, kami masih muter-muter, liat-liat doang. Sebelum memutuskan untuk keluar arena, kami mampir dulu di stan produk-produk Indofood. Biar ada sesuatu untuk ditenteng pulang gitu :D Aku bujuk Indah buat beli mi instan buat persiapan menjelang bulan puasa. Kapan lagi bisa beli dengan harga promo? Tapi dia (sok-sokan?) gak mau :D Akhirnya kami beli sepaket Chiki dan temen-temennya, Gatorade, dan sepaket susu cair Indomilk yang ternyata sebagian besar isinya Indomilk Kids! Ah gak papa, tetep enak kok. Maka, pulanglah kami dengan perut kenyang dan segepok tentengan.

Wisata Selera Indofood
Lapangan Gasibu, 27 Juli 2008
Kisaran harga makanan yang kami santap: Rp 5.000-Rp 20.000

The Kiosk, Kios Kumplit Jajanan Bandung

Sabtu kemaren niatnya mau ke Wisata Selera Indofood di Gasibu. Sampe sana sepiiiii bangettt. Cuma ada tenda-tenda kosong dan beberapa mobil boks Indofood. Kirain acara udah selese. Belakangan aku dikasi tau kalau acara baru akan berlangsung hari Minggu. Kacau, kok bisa salah hari gini yak? Keknya di kepalaku dah ter-setting kalo acara-acara keramaian seperti itu selalu di hari Sabtu. Jeritan hati nih, karena cuma libur sehari setiap minggu :((((

Untuk ngobatin kekecewaan, aku ama temenku pergi ke The Kiosk di seberang Dago Plaza. Meski gak ada hiruk-pikuk khas acara luar ruangan, paling gak di sana juga tersedia jajanan ikon Bandung (dan luar Bandung juga sebenernya), lengkap di satu tempat. Jadi, nggak perlu jauh-jauh ke pusatnya deh.

Menu yang tersedia antara lain Iga Bakar Si Jangkung Cipaganti, Nasi Liwet Ikan Jambal, mi kocok, Pisang Goreng Si Manalagi, lontong kari (lupa merek apa), tahu gejrot, rujak dan lotek, aneka es campur, masakan Jawa Timur, Mi Jawa Karso, dll. Banyak deh pokoknya. Tempatnya juga asik. Kalau mau liat view keramaian Jalan Dago, bisa pilih tempat duduk di deket jendela di sisi barat. Di bagian agak dalem juga gak kalah seru kok. Sayang gak boleh motret di sini, jadi nggak bisa menunjukkan penampakan menu dan kiosnya deh. Hiks.

Aku nyobain tongseng kambing Si Jangkung. Harusnya sih mesen iga bakar yang jadi brand-nya ya. Tapi aku lagi males liat tulang :P Temenku mesen Nasi Liwet Ikan Jambal. Untuk minum, kami pesen es kelapa jeruk dan es campur.

Setelah nunggu agak lama, tongseng pun datang. Isinya tentu aja daging (kambing), ditemani kol sama tomat. Dagingnya empuk banget, gak ada alot-alotnya sama sekali. Es kelapa jeruknya oke, seger. Jeruknya kerasa dan kelapa mudanya beneran muda :)

Nasi liwetnya tampil cantik dalam ketel kecil. Uba rampe berupa tahu, tempe, lalapan, dan kerupuk disajikan tersendiri dalam wadah bambu. Nasinya dilengkapi taburan teri medan. Sempet nyicipin dikit, rasanya oke.

Yang menyenangkan, harganya kalo gak salah sama ama di tempat aslanya. Gak ada pajaknya lagi. Ato mungkin harga dah termasuk pajak ya? Tapi gak disebutin begitu tuh. Nah, kalo kita kedatangan temen ato keluarga yang pengen makan jajanan Bandung tapi gak sempet nyambangin tempat aslinya satu per satu, mending ke sini aja. Ada di pusat kota, cukup kumplit lagi. Wah kok jadi promosi yak. Ya wes ah, deee…

The Kiosk
Jalan Ir H Djuanda (Dago), Seberang Plaza Dago
Tongseng kambing plus nasi : Rp 15.000
Nasi liwet ikan jambal : Rp 15.000
Es campur : Rp 8.000
Es kelapa jeruk : Rp 8.000

Wednesday, July 23, 2008

Sekali-kali Cepat Saji

Liat iklan menu terbaru KFC yang terpampang di jalan, jadi pengen. Colonel’s Steak. Itu judulnya. Gambarnya tampak menarik. Ada sebongkah daging ayam fillet bagian dada (tanpa tulang), dengan saus warna coklat bercampur jamur, kentang goreng, salad, dan saus sambel. Nih penampakannya (gambar diambil dari sini, malu euy jepret2in menu siap saji :p).

Setelah ngobrol-ngobrol ma Indah dan Yudha, dua teman penggemar resto siap saji jagonya ayam ini, mereka pun tertarik cobain. Tapi, berhubung beda tempat, kami nyobain di tempat kami masing-masing.

Indah nyolong start dengan makan steak ini di Kediri. Lewat SMS dia kasih testimoni pendek: ayamnya ayam ala KFC, sausnya dikit. Selang beberapa hari kemudian, aku dan Yudha janjian nyobain menu ini, dengan waktu yang sama tapi tempat berbeda :P

Kata Yudha: kalau makan steak mendingan di Waroeng Steak. Hehe, maaf ya sebut nama. Tau kan, Waroeng Steak, warung waralaba yang nyediain macem2 steak dengan harga kaki lima? Pertama kali kenal steak, makannya di sini, jaman kuliah di Jogja :) Di Bandung antara lain ada di Jalan Lombok dan wilayah Tamansari (kalo ga salah ya). Ato, masih di Bandung, ada Clemmons, warung spesialis steak ayam. Saya dah pernah cobain, tp review-nya belom tayang di sini. Loh, kok malah ngebahas warung tetangga sih? Gak fokus. Hehehe….

Oke, sekarang kata saya. KFC boleh jagonya ayam, tapi bukan jagonya steak. Penampakan di gambar emang gak menipu. Hidangannya terdiri dari apa yang udah saya sebutkan di paragraf pertama. Disajikan bukan di hotplate, tapi di styrofoam (duuh, gak rama lingkungan banget ya?), lengkap dengan pisau dan garpu plastik.

Ayamnya khas KFC. Tapi menurutku tepungnya keasinan. Lebih asin dari ayam goreng standar. Sausnya gurih, tapi gak istimewa. Entah komposisi bumbunya apa. Lidah dah gak peka karena udah ketimpa segelas es puding, gara2 harus nunggu pesenan ini 10 menit (lebih). Saladnya juga cuma selada ma potongan tomat, dengan seuprit mayones. Yang cukup mengibur cuma kentang gorengnya. Kalo yang ini normal.

Kesimpulannya, inovasi KFC perlu diapresiasi lah. Tapi, kalo mau makan steak, bukan di sini tempatnya. Mending cari tempat laen :D

KFC (ada di mana-mana)
Colonel’s Steak: Rp 23.000-an (belum termasuk pajak)

Thursday, June 12, 2008

Es Krim Tip Top

Ini nih es krim yang dah lama bikin aku penasaran, Akhirnya kesampaian juga ke sini setelah sempat tertunda. Kalo Jakarta punya Ragusa dan Bandung punya Rasa, Yogya ternyata juga gak mau ketinggalan punya ”rumah es krim”. Tempat ini keknya udah lama ada dan cukup direkomendasikan (salah satunya oleh ini nih). Tapi, dulu-dulu aku enggak pernah kepikiran nyobain meskipun sering banget lewat depannya. Maklum, waktu itu statusku masih mahasiswa dan ngekos pula, jadi gak pernah punya duit berlebih. Sekarang, meski masih tetep jadi anak kos, paling gak dah punya duit (untuk diri) sendiri.

Kok malah curhat sih. Oke balik ke es krim Tip Top. Aku ke sana bareng sepupuku. Dengan mantap aku langsung milih Tip Top Ice Cream. Aku yakin yang ada kata Tip Top-nya pasti spesial. Sepupuku milih Mocca Raisin. Untuk cemilannya cukup lumpia sajah, soalnya yang lain udah abis, padahal masih pagi lho. Padahal, awalnya pengen nyobain Tip Top Cake. Tapi, sudahlah, yang penting bisa nyicip es krim-nya. Tip Top Ice Cream tuh es krim tiga rasa (vanila, stroberi, coklat) yang tampil bak irisan cake (lapis surabaya, mandarin, ato bolu kukus pelangi, semacam itu lah) dengan taburan sukade di salah satu sisinya dan kismis yang nyempil-nyempil di bagian es krim coklat. Pertama muncul sih tekstur es krimnya agak keras. Setelah beberapa saat, lebih gampang disendokin. Es krimnya gak terlalu manis, gak terlalu milky, dan gak gampang leleh (padat). Enak deh pokoknya.

Sementara satu scoop Mocca Raisin disajikan dalam gelas kecil. Rasanya kopi banget, sedangkan teksturnya lebih cair. Mirip-mirip es puter gitu deh, jadi lebih gampang leleh. Kalo di Bandung, kek es krim mocca-nya Sumber Hidangan.

Untuk lumpia gak terlalu istimewa. Tampilannya kayak lumpia semarang, tapi kulitnya kurang renyah. Kalau isiannya, aku dah lupa, abis kurang berkesan sih. Hehehe.

Oya, bagi kaum Muslim, kalo mau ke sini, jangan lupa nanya-nanya dulu karena sebagian es krim mengandung rhum.

Es Krim Tip Top
Jalan Mangkubumi 24 Yogyakarta (deket Tugu, deket kantor KR juga)
Tip Top Ice Cream Rp 16.500
Mocca Raisin Rp 9.000
Lumpia Rp 7.500
Dapet bonus segelas air putih :)

Buka Senin-Sabtu dari pukul 9.00 - 13.30, break, trus lanjut buka lagi 17.00 - 21.30

Saturday, May 17, 2008

Gampoeng Aceh

Jumat malem pekan lalu, ada yang lagi hepi dan berbaik hati traktir makan-makan. Kami senpet kebingungan menentukan pilihan tempat. Awalnya mau menu makanan berbau kambing di Jalan Jawa, tapi udah terlalu malem. Abis itu, mobil diarahkan ke kawasan Braga, tepatnya di warung tenda seafood Muara Angke. Tempatnya sih biasa banget, tapi beberapa temen merekomendasikannya.

Sampe di sana ternyata persediaan gas menipis. Khawatir pesenan gak akan bisa komplet,
kita memilih kabur aja. Pilihan terakhir adalah Gampoeng Aceh di Jalan Dago. Semua setuju. Temen-temen cowok malah semangat, karena katanya bisa sekalian cuci mata liat cewek cantik. Dasar!

Sampe di tempat emang rame banget, tapi didominasi ama bapak-bapak dan ibu-ibu. Termasuk juga rombongan Agum Gumelar. Tapi, traktir-traktir must go on. Kami pun memilih menu. Ada yang pesen martabak mi, nasi goreng kambing, nasi goreng cumi, nasi kare, sup iga bakar, roti canai keju susu, roti canai kacang susu, roti canai kuah durian. Aku sendiri pilih roti canai kari kambing plus teh tarik panas.

Karena udah tengah malem, keknya saraf-saraf pengecapku dah gak begitu sensitif. Jadi nggak bisa menggambarkan rasa-rasanya dengan benar. Hehe. Yang jelas roti canai kari kambing yang aku makan mayan enak. Karinya berempah. Kalo martabak mi-nya lebih mirip omelet, biasa banget. Roti canai keju susu, menurutku terlalu manis. Menu lainnya aku gak sempet nyomot, dah terlalu kenyang. Bu Agum bilang sih menu di Gampong Aceh enak-enak dan murah meriah :P Berikut ini penampakan sebagian menunya (buat yang protes tentang ketiadaan foto kemaren, ini nih udah ada...)Gampoeng Aceh
Jalan Ir H Djuanda alias Dago
Harga rata-rata Rp18.000

Saturday, May 10, 2008

Kue Balok

Pagi tadi jogging di Taman Cilaki. Lari 2,5 putaran plus jalan kaki 1 putaran. Bagiku itu udah lumayan banget. Dan, bukan aku kalo ikhlas begitu aja olahraga. Biasanya pake acara tambahan segala, misalnya ngemil cakue.

Kebetulan ada gerobak makanan yang menarik perhatian. Yang ditawarkan adalah kue tempo dulu, setidaknya itu yang tertulis di gerobak. Namanya kue balok. Kue yang asing bagiku. Tapi, setelah liat penampakannya, keknya aku pernah mengenalnya di masa lalu.

Aku pesen versi original dan choco chip masing-masing dua biji, sekalian buat pasangan duet mawutku. Kue balok ini pun jadi teman sarapan kami di kosan. Rasanya mirip banget ma kue pukis ato kue pancong. Pukis ma pancong sama gak sih? Yah, pokoknya sejenis itu dehh. Kalo aku liat emang adonan dan cara masaknya sama. Kue dimasak di cetakan yang ditaruh di atas bara api.

Ibu kos yang kebetulan liat penampakan kue balok ini bilang, di Yogya ada kue serupa. Namanya kue (bolu?) kuwuk. Sampe sekarang masih bisa didapat di Pasar Beringharjo. Berarti bener, dulu aku sempet mengenalnya. Tapi, menurutku rasanya beda. Bolu kuwuk lebih deket ke kue bolu, dan keknya dimasaknya pun dalam oven. Sementara kue balok lebih cenderung ke pukis.

Rasanya sih gak terlalu istimewa. Kalo dibiarkan sampe dingin bahkan bisa jadi keras banget. Dari hasil googling-ku, disebutkan kalo kue ini berasal dari Bandung. Hmm, Bandung mang gak ada matinya deh dalam hal makanan....

Kue Balok
Mangkal pagi-pagi di Taman Cilaki (yang deket Jalan Citarum)
Original : Rp 800
Choco chip : Rp 1.000

Tuesday, May 6, 2008

Steak Abuba

Akhir pekan datang! Waktunya mencoba makanan baru. Yang jadi target kali ini: steak Abuba yang baru aja buka cabang di Bandung. Penasaran aja ama steak yang cukup terkenal di Jakarta ini. Kalo gak salah, ini termasuk steak yang mengusung konsep harga kaki lima rasa bintang lima :D Soal kenapa namanya Abuba, gak tau ya. Mungkin nama pemiliknya Abubakar (Ba'syir?)....

Aku dan Indah (lagi!!!) datang pada hari ke-3 pembukaan. Pengunjung gak banyak2 amat. Tempatnya sendiri cukup nyaman dengan meja dan kursi dari kayu. Di atas meja berjajar aneka saus dan bumbu pelengkap, mulai dari saus sambal, saus tomat, pepper sauce, saus BBQ, mustard, merica bubuk, hingga garam.

Aku pesen tenderloin steak dengan daging sapi lokal. Cinta produk dalam negeri ceritanya :p Indah pesen sirloin steak daging New Zealand. Kami bilang dagingnya dimasak mateng. Tapi pas dateng, steak-ku ternyata setengah mateng :( Yang lebih mengecewakan, sausnya biasaaaaa banget. Bumbunya terasa instan, gak ada sentuhan "homemade". Satu poin plus (menurutku),
porsi sayurnya lumayan banyak, cukup buat mengimbangi lemak di daging.

Dengan harga paling murah berkisar Rp 40.000 (belum termasuk pajak 10 persen), keknya gak pengen balik lagi deh. Bukan mematikan pasaran ya, tapi ini masalah selera. Bagi yang pengen nyoba, silakan dateng loh. Siapa tau cocok.

Steak Abuba
Jalan Prabu Dimuntur No 12 Bandung
Terderloin steak (lokal) Rp 40.000
Sirloin steak (New Zealand) Rp 45.000
Es teh lemon Rp 5.000
Pajak 10 persen

Monday, April 21, 2008

Bebek A Yayo

Akhir-akhir ini banyak temen membicarakan bebek A Yayo ini. Beberapa bloggers juga me-review-nya. Bahkan ada yang sangat merekomendasikan. Jadi, harus dicobain nih. Minggu (20/4), sebelum ke kantor, Indah ngajakin makan siang. Diputuskan, menunya adalah bebek A Yayo. Ayooookkk….

Kami pun menembus hujan rintik-rintik yang mengguyur Kota Bandung. Kami sempet kebablasan karena rumah makannya emang kecil dan enggak terlalu mencolok. Tempatnya bersih. Ada beberapa meja kayu di luar ruangan. Anak-anak muda keknya pada seneng nangkring di luar ruangan, soalnya pas kami datang udah ada dua pasang cowok-cewek. Sementara bagian dalem ditongkrongin sebuah keluarga yang cukup besar. Dan beberapa orang lagi yang entah punya hubungan apa :D (gak penting ahhh)

Singkat cerita, kami pun pesen makanan saking lapernya. Aku pesen paket bebek goreng, Indah milih paket bebek bakar. Termasuk di dalam paket: nasi putih, lalab (daun selada, kol, timun, kemangi, n tomat), dan teh botol. Oya, kami juga dapet dua macem sambel. Pertama, sambel kecap. Rasanya terlalu manis (buatku), tapi cabenya kerasa. So, not bad lah. Aku lebih suka yang kedua, sambel cabe ijo yang di dalemnya bertebaran irisan bawang. Mungkin ini sambel dikucurin minyak panas sebelum disajiin, soalnya berminyak banget. Ato digoreng sebentar? Tau deh. Rasanya enak, tapi kadar pedesnya rendah. Kalo lebih pedes, pasti nendang deh.
Bebek gorengnya sendiri tampil dengan topping kremesan yang penampakannya mirip kremesan di Indomie Kriukkk, plus irisan tebal-tebal bawang goreng. Bebeknya empuk, gurih, dan… berminyak bangeeeet :( Tapi, lupakan sejenak tentang minyak, mengingat ini akhir pekan. Indah yang sudah nyobain bebek di beberapa tempat bilang, bebek A Yayo ini juaranya. Aku sih baru nyobain bebek McDarmo di Jalan Jawa, itu pun rasanya dah lupa-lupa inget. Malah terkenang-kenang ma rasa kol gorengnya yang berlumuran minyak itu, hehehe.

Oya, untuk minumnya aku pesen es markisa, sementara Indah mesen jus markisa. Sebenernya ini bukan dari buah markisanya, tapi udah berbentuk sirup. Jadi, tepatnya es sirup markisa dan jus sirup markisa :D Di sini juga dijual sirup markisa botolan. Katanya asli dari Sumatera Utara. Di menu emang tertulis kalo sirup markisa (lupa mereknya) ini jadi sponsor. *Dah mulai ngelantur karena kenyang nih*

Intinya, aku cukup puas makan bebek di sini. Suatu saat pasti kembali untuk mencicipi menu yang laen. Yuhuuu….

Bebek A Yayo
Pusat : Jalan Bengawan 67 Bandung, telp 022-7208265
Cabang : Food Court Lt 2 No 67 ITC Fatmawati Jakarta

(Selasa tutup)

Paket bebek goreng/bakar : Rp 20.000
Jus (sirup) markisa : Rp 5.000
Es (sirup) markisa : Rp 4.000
Menu lain: sop bebek, bebek saos kecap, ayam bakar/goreng

Wednesday, April 16, 2008

Kue Ape

Kue ini banyak dijual secara gerobakan di pinggir jalan. Bentuknya mirip serabi solo, tapi lebih imut dan tipis. Biasanya warna ijo. Bagian pinggirnya yang berwarna coklat krispi banget deh kalo kue ini dimakan anget-anget. Kalo dah dingin sih semua bagian jadi letoy. Rasanya manis, dengan tekstur antara serabi solo dan surabi bandung (aliran surabi imut/enhaii). Tapi kandungan santannya (kalo ada) dikit. Karena ukurannya imut banget, makan satu enggak akan berasa apa-apa deh. Tapi tenang, harganya sangat terjangkau, Rp 500 per buah. Yang ini aku beli di Jalan Hasanuddin, kompleks Kampus Unpad. Tapi waktu aku lewat lagi di situ, penjualnya enggak mangkal. Mungkin cuti :p

Yang aku suka dari jajanan gerobakan di pinggir jalan, kemasannya justru ramah lingkungan, soalnya pake kantong kertas. Keren kan??? Jadi, mari kita lestarikan makanan tradisional sekaligus lingkungan kita. Halah, malah kampanye.

NB: kata Wikipedia, kue ini juga disebut serabi jakarta

Serabi Notosuman (Lagi!)

Horeeee…dapet oleh-oleh serabi notosuman lagi. Kali ini versi asli dari generasi pertama, yang pembuatannya masih tradisional. Tapi di luar dugaan, aku justru lebih cocok dengan serabi notosuman yunior yang dibawain Mas Kidi sebelumnya. Versi asli ini teksturnya justru lebih padat dan berat, enggak begitu lembut. Aku gak bilang versi ini gak enak ya, cuma selera kan gak bisa dipaksain. Yang penting, aku udah nyobain beberapa versi serabi solo. Gak penasaran lagi deh. Alamatnya bisa diliat di foto aja yaaaa... (eh ternyata gak keliatan :(( maap)

Sunday, April 13, 2008

Cireng, Aci Digoreng

Cireng nih salah satu jajanan yang cukup populer di Bandung. Gak tau persis sejak kapan makanan ini muncul. Silakan googling untuk mendapatkan sejarah cireng. Tadi liat di wikipedia...hehehe. Yang aku tahu, cireng yang banyak digandrungi tuh cireng cipaganti di depan Kantor Pos Cipaganti. Aku sendiri belom pernah nyobain.

Nah, sekarang cireng lagi mulai bangkit lagi deh. Ato ini hanya perasaanku saja? Cuma, beberapa waktu lalu pas lagi blogwalking, beberapa blogger lagi ngereview cireng keraton. Katanya, cireng ini beda dari cireng pada umumnya dari segi kulit dan isian. Konon adonan kulitnya mirip pastel. Sebenernya di deket kantor ada cabangnya, tapi belom sempet nyambangi. Nanti deh kalo udah ke sana aku tulis ceritanya di sini.
Oya, kebetulan di deket kos ada penjual cireng yang belom lama mangkal. ”Cireng Bandung Isi”. Begitu spanduk yang terpasang di gerobaknya. Beneran spanduk loh, dengan ukuran huruf gede-gede, bisa diliat dengan jelas dari jarak 300 meter. Jadi kemaren pas lewat sana, aku beli deh. Aku beli rasa ayam, bakso, dan kornet, masing-masing versi pedes.

Kalo ini keknya aliran cireng pada umunya. Tekstur kulitnya agak alot khas tepung aci (sagu). Isian yang paling top, ayam pedes. Bumbu pedesnya berpadu cukup baik dengan suwiran ayam. Yang isi bakso ma kornet biasa aja. Kalo cirengnya dimakan dalam kondisi dingin, kadar alotnya semakin menjadi. Jadi butuh perjuangan untuk ngunyah :D

Cireng cukup mudah ditemui di gerobak-gerobak jajanan pinggir jalan. Tapi gak tau ya di jalan mana aja…Gak pernah merhatiin.

Cireng Bandung Isi
Jalan Muararajeun, deket Pusdai
Cireng aneka isi : Rp 1.000

Colenak Murdi Putra

Era keemasan colenak keknya udah lewat. Maksudnya, makanan ini ngetren-nya udah lama. Sebelum aku ke Bandung, pernah baca di tabloid ini. Aku pikir colenak nih termasuk salah satu inovasi kreatif urang Bandung pada masa wisata makan-makan naik daun. Ternyata aku salah.

Beberapa waktu lalu ngobrol di YM ama temenku, dia dah mengenal colenak dari SD. Dia sekolahnya di Yogya loh. Tapi emang sih, yang jualan urang Bandung. Pengen tau lebih jauh, akhirnya aku goggling dengan kata kunci ”colenak murdi putra” karena merek inilah yang paling terkenal. Ternyata bener kata temenku, colenak udah ada sejak tahun 1930-an. Info lebih lengkap bisa dibaca di sini.

Kemaren akhirnya aku nyobain colenak, yang merupakan singkatan dari ”dicocol enak” ini. Aku gak mau susah-susah ke tokonya hanya buat beli sebungkus. So, aku meluncur aja ke Toserba Yogya BIP. Kebetulan ada yang perlu dibeli di sana, dan emang colenak Murdi Putra juga tersedia.
Aku pilih rasa original, biar lebih afdol. Sebenernya ada rasa laen, nangka dan durian. Bayanganku, colenak ini peuyeum alias tape singkong yang udah dibakar, dipenyet, n dikasih saus. Ternyata oh ternyata, peuyeumnya masih dalam bentuk bongkahan, meskipun udah berupa potongan kecil-kecil. Ada kali 15 potong sebungkus. Peuyeumnya terlihat dibakar, tapi yang gosong cuma dikit. Trus, ada campuran kelapa dan saus gula merah yang cukup pekat. Emang bener dah kalo di bungkusnya tertulis berkalori tinggi. Tapi kalo vitamin A dan D, itu dari bagian apanya ya????

Ngeliatnya aja aku dah langsung kenyang. Colenak ini aku bawa pulang ke kos gara-gara pengen motret aja dengan tenang. Heheheh. Coba dimakan di kantor, pasti banyak deh yang mo jadi sukarelawan perusuh.

Akhirnya kumakan juga colenak kesohor ini. Peuyeumnya sendiri udah manis, ditambah dengan kelapa n saus gula merahnya, bagiku jadi enek. Soalnya aku emang gak terlalu suka manis. Tapi yang jelas aku dah gak penasaran lagi dan bisa jawab kalo ada yang nanya tentang colenak. Hehehhe. Untuk makan colenak lagi, nunggu ada temen yang diajak makan rame-rame aja deh. Keknya makanan ini enaknya dimakan rame-rame. Kalo sebungkus harus diabisin sendiri, makasee :)

Colenak Murdi Putra

Jalan A Yani Bandung (alamat lengkap nyusul)
colenak original: Rp 5.000

Wednesday, March 12, 2008

Rumah Stroberi

Akhir Februari lalu kakakku dan istrinya liburan ke Bandung. Di hari terakhir, kami berkesempatan jalan bareng. Kakak iparku ngebet banget ke Rumah Stroberi, bawaan orok kali. Berbekal buku panduan wisata makan-makan dengan alamat yang gak begitu detail, kami berangkat naek angkot. Dari Terminal Ledeng kami naek angkot putih jurusan Parongpong, yang jumlah armadanya banyak tapi ngetem semua! Setelah sekian lama nunggu, ada juga yang jalan. Kami bilang ke pak sopir mau ke Rumah Stroberi. Dan beliau berbaik hati menurunkan kami di sebuah persimpangan jalan di mana kami harus ganti angkot lagi.

Singkat cerita, sampelah kami di Rumah Stroberi. Arealnya cukup luas. Kita bisa makan sambil duduk di bangku-bangku kayu atopun lesehan di saung. Sebelum makan, kami keliling dulu ke kebun stroberi. Karena kami datang hari Senin, stroberinya udah habis sama pengunjung Sabtu-Minggu. Alhasil, kami cuma bisa liat-liat sambil foto-foto, gak bisa metik stroberinya.

Puas muter-muter di kebun dan lapar, kami bergegas pesen makan siang. Menu yang dipilih: paket nasi liwet untuk 4 orang, padahal kami cuma bertiga. Minumnya jus stroberi original, jus stroberi dengan susu, dan bandrek (yang ini pesenanku).

Kami memilih duduk lesehan di saung. Minuman cepat datang, disertai bonus makanan ringan berupa keripik singkong.Gak lama kemudian menyusul hidangan utama. Nasi liwet yang tersaji dalam ketel, trus lauk pauk dalam nampan bambu. Nasinya udah dibumbuin, jadi rasanya gurih. Udah gitu ada aksesori berupa ikan teri medan, cabe merah utuh, cabe gendot, dll. Lauknya: ayam goreng garing, tahu goreng yang lembut, tempe goreng yang juga enak, ikan peda yang dimasak dengan irisan cabe rawit segar, seplastik kerupuk putih, sambel dadak, dan pastinya lalapan. Sambelnya, meskipun gak terlalu pedes, oke kok. Kesimpulannya, untuk ukuran tempat makan yang menjual suasana, rasa sajiannya memuaskan (semoga enggak karena laper bilang enaknya :D). Bandrek pesenanku juga enak. Pedes jahenya kerasa, enggak terlalu manis, trus kelapa mudanya juga beneran muda.
Setelah kenyang, kami balik ke Bandung. Mampir dulu di toko oleh-oleh AAA. Di sana nemu es goyang, semacam es lilin yang proses pembekuannya pake acara nggoyang-nggoyangin gerobaknya (kalo gak salah ya...).Tapi enggak tau kalo yang ini, soalnya udah terlihat modern. Sebatang es goyang rasa stroberi, dengan serpihan-serpihan buah stroberi di dalamnya, pun jadi pencuci mulutku siang itu.

Rumah Stroberi
Jalan Cigugur Girang 145 Parongpong, Kabupaten Bandung Barat
Nasi liwet komplit (untuk 4 orang) : Rp 80.000
Jus stroberi : Rp 12.000
Bandrek : Rp 7.000

Serabi Solo Notosuman

Setelah berkali-kali menolak bawain serabi solo dengan alasan khawatir basi, akhirnya kemaren Mas Kidi kabulin juga permintaanku. Thanks ya, Mas. Ternyata serabi edisi uji coba itu sampe di Bandung dengan selamat. Dua kotak serabi pun dibabat abis temen-temen kantor dalam hitungan menit.

Aku pertama kali kenal serabi solo tahun 2001 dari temen KKN. Serabi yang dia bawa enggak bermerek (keknya beli di pinggir jalan :p). Yang kuinget, topping-nya macem-macem, antara lain nangka dan meises. Teksturnya lembut banget. Enggak perlu perjuangan buat ngunyah, ringan, bercita rasa gurih dan manis tapi enggak bikin enek. Beda ama surabi bandung yang teksturnya mirip martabak manis. Dengan ukuran lebih gede, makan satu surabi bandung aja udah kenyang banget mendekati enek.

Kata orang sih, merek serabi solo yang paling terkenal itu Notosuman. Notosuman sendiri, menurut Mas Kidi, dulunya kawasan pecinan. Banyak yang jualan serabi di situ. Mungkin kalo di Yogya kayak kawasan Pathok dengan bakpianya itu.

Entah apa yang membedakan serabi Notosuman satu dengan yang laen. Di Jalan Laksda Adisucipto, Yogya, juga ada toko serabi Notosuman. Konon pemiliknya adalah cucu dari pionir serabi Notosuman (katakanlah Mbah Notosuman…asal banget deh). Penampakannya bisa diliat di sini. Menurut Mas Kidi, serabi Notosuman yang pertama tuh dijual oleh seorang mbah yang udah sepuh (dan galak :p). Cirinya, kotak pembungkusnya putih tanpa tulisan dan si serabi juga polos tanpa topping. Kalau serabi edisi uji coba ini katanya dibuat oleh anak kedua Mbah Notosuman. Kemasannya modern. Dan, liat di salah satu sudut kemasan, tertulis pesan sponsor ”Kara, Santan Kelapa Murni”. Santannya aja instan, jangan-jangan adonannya juga instan, kayak adonan kue instan di supermarket itu. Hehehe. Well, mo serabi Notosuman yang mana aja, yang jelas rasanya yummy, soalnya gratis :D *sambil ngarep ada serabi edisi berikutnya*

Serabi Notosuman
Jalan Moh Yamin 24 Solo (telp: 0271-651852)
Jalan Moh Yamin 43 Solo
Jalan Bayangkara 63 B Pathok, Yogya
Ada juga di Semarang, BSD City, dan Sragen

Sunday, February 3, 2008

Jalan-jalan Sabtu Siang

Habis kursus Perancis, temenku Maria yang sedang gundah gulana pengen makan baso tahu sembari curhat-curhatan. Ya udah, aku ajakin ke Jalan Ternate. Di sana, menurut buku The Food Traveler’s Guide, ada baso tahu ikan yang enak. Mangkalnya di depan Salon Albenia. Kami susuri jalan itu, tapi di depan salon yang dimaksud gak ada tanda-tanda gerobak baso tahu mangkal.

Kami balik kanan (tapi gak bubar jalan lho…), kembali ke arah Jalan Riau. Bingung mau makan pempek, bakso, burger, atau apa. Ternyata di sebelah 18th Park Distro ada gerobak baso tahu ikan. Meski bukan baso tahu yang diinginkan, kami memutuskan makan di situ. Aku pesen menu komplit, masing-masing satu item: siomay, tahu, kentang, kol, dan telur. Sementara Maria pesen minus tahu. Minumnya standar: teh botol (mereknya jangan ditanya lagi!!)

Rasanya? Seperti kebanyakan baso tahu lah. Nothing’s special. Siomay-nya sendiri menurutku terlalu kenyal dan keras.
Trus, buat apa aku repot-repot nulis di blog? Gak ada maksud apa-apa sih. Cuma pengen bilang aja, kalo lagi butuh curhat sambil makan yang gak terlalu bikin kenyang, baso tahu bisa jadi alternatif. Makannya bisa di mana aja, secara baso tahu bercokol di mana-mana :p dan rasanya udah sesuai standar perbasotahuan se-Bandung Raya (kaliii…)

Puas makan dan cerita-cerita, kami iseng liat-liat di China Emporium. Abis itu Maria pulang dan aku ke kantor. Di Jalan Riau deket pertigaan Jalan Halmahera, aku berhenti di mobil yang menawarkan kue semprong. Dari dulu aku suka banget ma kue nan renyah ini. Si penjual nawarin tester yang langsung kusambut gembira :)) Selain itu, aku juga ditawarin tester semacam emping jagung yang juga renyah dan berbumbu. Karena produk unggulannya kue semprong (menurut si penjual sih buatan sendiri), aku beli sekotak kue itu.

Emang sih, rasanya renyah dan taburan wijennya buanyaakk. Kemasannya juga gak malu-maluin. Tapi, Rp 11.000 kok cuma dapet kurang dari 30 batang yak? Hueheheh…

Kue semprong Del'Mira
Jalan Rajamantri I No 8
Buahbatu, Bandung
Telp: 022-7313888/7302271

Baso tahu kaki lima (Rp 5.000-7.000-an)

Makin Seru dengan Buku

Agar perjalanan makan-makan lebih terarah, aku mulai ngumpulin buku tentang wisata makan-makan. So far, ini nih koleksiku:

100 Tempat Wisata Jajan Bandung keluaran Intisari
Ayo ke Bandung: 200 Plus Tempat Terbaik 2007-2008 Edition, TriExs Media Bandung
The Food Traveler’s Guide terbitan Bukune
100 Warung Makan Enak! di Jogja terbitan Delokomotif
Selain itu, aku juga mengandalkan sumber-sumber di internet. Milis jalansutra dan situs http://www.ayojajan.com/ salah duanya. Aku juga suka blog walking ke blog-blog petualang kuliner, yang terlalu banyak untuk disebut satu per satu. Tak ketinggalan, liputan kuliner yang gak kalah banyak di tipi-tipi.

Referensi dah cukup, yuks kita lanjut makan-makan lagi!!!

Monday, January 14, 2008

Nikmatnya Tulang Ikan

Tulang ikan jambal. Itulah menu andalannya. Sebenernya aku bukan tipe orang yang telaten menggerogoti ikan sampe ke tulang-tulangnya. Tapi karena penasaran sama liputan di salah satu TV swasta, aku nyobain juga. Pertama kali nyoba udah lama, nitip sama OB kantor. Kesan pertama begitu menggoda.

Akhir pekan lalu, karena bingung mau makan apa, akhirnya aku ke Jalan Ternate. Makan nasi tulang jambal lagi. Kali ini makan di tempat. Kedainya kecil, tapi rame banget karena kebetulan pas jam makan siang. Yang datang kebanyakan anak-anak muda.

Meski ada menu lain kayak ayam goreng dan gepuk, yang paling digemari emang si tulang jambal ini. Aku pesen paket 1 yang berisi nasi, dua potong tulang ikan jambal, tahu-tempe, plus lalapan. Tulang jambalnya entah dimasak apa, yang jelas rasanya agak-agak asem manis dan super pedes. Penampakannya didominasi serpihan-serpihan cabe merah dan taburan biji cabe yang udah berwarna item. Aku rasa mereka pake cabe kering juga deh. Pertama-tama pedesnya berasa normal, tapi lama-lama bisa bikin megap-megap bin ingus keluar (hii..jorok!).

Karena judulnya aja tulang, dagingnya emang sedikit. Butuh usaha keras untuk menggerogoti tulang demi mendapatkan seuprit daging. Tapi di situlah serunya.

Oya, ada yang sedikit unik di kedai itu, yaitu penampilan para pramusaji. Semuanya cowok (ada satu bapak juga ding) dengan penampilan agak metal. Bahkan ada beberapa yang bertatanan rambut mohawk. Tapi bukan ini kok alasan yang akan membawaku ke sini lagi :p

Tulang Jambal, Jalan Ternate Bandung (Belakang 18th Park Distro)
Paket 1 (nasi, tulang jambal, tahu-tempe) : Rp 11.500
Paket 2 (nasi, ayam goreng, tahu-tempe) : Rp 12.000
Paket 3 (nasi, gepuk, tahu-tempe) : Rp 12.500
Dikenakan tambahan biaya Rp 500 untuk box kalo makanan dibawa pulang

Rumah (Rumahan) Sosis

Jumat lalu aku diajak LSD liputan ke Lembang. Dengan senang hati aku ikut, itung-itung jalan-jalan. Dalam perjalanan ke Lembang, kami udah nentuin Rumah Sosis sebagai tempat makan siang.

Selesai LSD liputan dan aku foto-foto (baca: difoto), kami segera menuju ke Rumah Sosis di Jalan Setiabudi. Namanya aja ”rumah sosis”, aku udah ngebayangin di sana tersedia aneka macam hidangan serba sosis. Apalagi, di samping pintu gerbang tertancap tulisan “Rumah Sosis” dengan ukuran huruf gede-gede. Di gerbang masuk ada plakatnya. Di dalem juga ada. Tak ketinggalan, lampu-lampu hias berbentuk sosis bergelantungan di seluruh penjuru.

Kami gak langsung makan, tapi lihat-lihat sekilas wahana apa aja yang ada di sana. Ada flying fox, ATV, kolam renang, air soft gun, dan rumah pohon. Ada juga kudapan seperti jadah bakar, baso tahu, sate, dan es oyen yang dijual di gerobak-gerobak.

Karena berniat makan sosis, kami menuju ke resto. Di pojok depan pendopo resto ada meja kecil dengan dua orang yang sedang sibuk bakar-bakar sosis. Kami bertanya harus pesan sosis di meja itu atau di dalam resto. Si mas bilang pesan lewat dia, sedangkan minuman pesan di resto. Oya, dari sedikit pilihan sosis yang tersedia (kalo gak salah lima), tinggal dua pilihan: super bockwurst dan black pepper (kecewa satu). Ya udah kami pesen keduanya. Tak lupa kami bilang bahwa sosis akan dimakan di tempat, tidak dibawa pulang.

Sambil menunggu sosisnya mateng, kami pesan minum (fruit tea dan es teh lemon) sama camilan (cikuwa). Aku juga melototin daftar menu, mastiin apa ada hidangan serba sosis lainnya tertulis di situ. Ternyata nggak ada. Semuanya non-sosis. Jadi untuk makan sosis emang harus pesen di meja depan itu. Pesenan pun datang. Penampilannya sangat jauh dari bayanganku. Boro-boro disajikan dalam piring cantik, apalagi hot plate, ternyata sosis cuma dikemas dalam plastik mika. Sementara sausnya dibungkus plastik bening biasa. Perlengkapan lainnya cuma garpu dan satu piring kertas. Susah juga makan sosis tanpa ada pisau (kecewa dua). Belakangan tau dari Mbak Retma kalo kita bisa minta tolong agar sosisnya dipotong-potong sekalian. Ya, mana tau, orang bayanginnya sosis datang dalam hot plate!!!

Rasa sosisnya sendiri biasa banget (kecewa tiga). Gak ada istimewanya sama sekali. Black peppernya sedikiiiit lebih baik dibandingkan super bockwurst. Satu-satunya yang agak menghibur hanya si cikuwa, camilan dari ikan (nggak tau ikan apa) yang sepertinya dicampur dengan tepung, dibentuk silinder, trus digoreng. Teksturnya kenyal-kenyal gitu. Kalo rasa, mirip lah sama otak-otak. Awalnya enak sih, cuma lama-lama agak enek. Padahal porsinya enggak begitu besar, dan kami makan berdua lagi.

Akhirnya aku pulang dengan sedikitnya tiga kekecewaan. Cukup sekali aja deh makan sosis di sana Gak maw maw lagi :(( Pelajaran moral hari ini: jangan mudah percaya sama penampilan luar.

Rumah Sosis, Jalan Setiabudi
Super bockwurst Rp 16.000
Black pepper Rp 9.000
Cikuwa Rp 13.000
Es teh lemon Rp 6.500

Saturday, January 12, 2008

Berjuta Rasa di Pengujung Tahun

Judulnya hiperbola banget yak. Berlebihan. Emang aku makan apaan sih?

Simak aja deh tur makan-makanku di hari terakhir tahun 2007.

Rasa Bakery and Café


Tempat yang kesohor sebagai gudangnya es krim yummy ini udah lama kuincer, tapi baru sempet didatengin tanggal 31 Desember lalu. Bukan karena terlalu sibuk atau saking gak punya duit, tapi gara-gara nazar gak penting. Beberapa bulan sebelumnya, aku dan tetangga sebelah punya nazar makan es krim Rasa pake duit celengan. Asal tau aja, kami punya celengan berbentuk tabung diameter 7 cm dan tinggi 29 cm yang kami isi uang logam 500 dan 1.000 rupiah. Sekian bulan berlalu, celengan itu gak penuh-penuh. Karena udah ngebet, aku memaksa pergi ke Rasa pake uang di dompet :p Lupakan celengan, lupakan nazar.

Lepas jam 14.00 dengan penuh semangat kami berangkat. Parkiran udah penuh mobil. Mungkin hanya kami yang naek motor. Tapi siapa tau juga banyak yang ngangkot? Whatever, gak penting.

Setelah dapet tempat duduk yang nyaman, aku langsung pesen Coconut Royal, es krim yang paling diunggulkan, dan es teh lemon. Indah pesen beef teriyaki dan es teh. Aku sengaja gak pesen makanan lain dulu biar bisa menikmati es krim dengan senikmat-nikmatnya.

Coconut Royal terdiri dari tiga scoop es krim (coklat, cocopandan, vanilla) yang disajikan bersama buah kalengan dan sepotong biskuit semacam wafer (ato kue semprong ya?) di dalam setengah batok kelapa muda. Rasa es krimnya gak pasaran, khas buatan rumahan gitu (entah rumah siapa, yang jelas bukan rumahku). Buah kalengan, kelapa muda, dan biskuitnya standar aja sebenernya. Tapi perpaduan semua elemen membentuk satu rasa: enakkk!!! Hehehe. Kalo biasanya tiga scoop es krim udah cukup mengenyangkan, ini belom (enak apa aku laper ya?) Sambil makan es krim ini, tiba-tiba aku dapat ide cemerlang. Nanti kalo mudik, mau bikin es krim ala Coconut Royal ini sampe mabok secara di kebun mbahku banyak pohon kelapa. Tinggal beli es krim literan, wafer stick, bikin cocktail, jadi deh. Bisa mabok es krim rame-rame. Buat pemimpin Rasa beserta jajarannya, jangan sewot ya kalo resepnya diadaptasi :p

Balik ke makanan. Beef teriyakinya Indah enak juga. Bumbunya berempah. Indonesia banget. Potongan daging sapinya juga empuk. Mengingatkannya pada bistik masakan nenek (ngarang!).

Untuk minuman, Indah sebagai pencinta teh bilang tehnya enak. Ada rasa sepet-sepetnya. Sementara aku yang sedang belajar menikmati teh berpendapat lumayan. Kalo di Jawa Tengah-Yogya, mungkin rasa seperti itu bisa didapat dari teh cap Catut atau Tang (maaf sebut merek, bukan bermaksud promosi loh).

Belum puas dengan es krim aja, aku pesen kroket isi daging plus sayuran, pastry isi daging, dan tiga biji coklat. Kroket dan pastrinya enak. Coklatnya mengecewakan, cuma menang tampang doang. Rasanya gak lebih dari tim-timan coklat putih yang banyak beredar di pasaran itu. Oya, Indah sempet nyobain es krim cup rasa rum raisin. Enak, enggak enek. Dasar aku emang doyan es krim sih.

Ada banyak menu makanan di sini, mulai dari kue-kue, pastry, coklat, wafel, sampe makanan berat ala Barat dan Indonesia. Tapi kebanyakan pengunjung datang untuk mengudap, makan es krim dan kue-kue kecil sambil berlama-lama ngobrol. Tempatnya cukup nyaman untuk segala usia :) Gak nyesel deh datang ke tempat ini. Suatu saat aku pasti kembali.

Rasa Bakery and Café
Jalan Tamblong, Bandung
Coconut Royal Rp 17.000
Beef teriyaki Rp 20.000
Es teh Rp 5.500
Es teh lemon Rp 7.500
Coklat Rp 1.500
Kroket Rp 3.500
Pastry Rp 4.500
Pajak 10 persen

Jagung Bakar 4 Rasa

Malem harinya, sambil liat-liat keramaian Tahun Baru, kami nongkrong di kios Jagung Bakar 4 Rasa di Jalan Dago, tepatnya di seberang Superindo. Warung kecil ini tampaknya lumayan kondang. Di salah satu bagian warungnya ada kumpulan banyak tanda tangan, tapi entah tanda tangan siapa, enggak sempet merhatiin. Aku bahkan enggak sempet ngecek, 4 rasa tuh apa aja. Abis aku kebagian jaga tempat duduk di halte biar gak diambil orang :p Aku pikir, paling variasi rasanya gak jauh-jauh dari asin, manis, pedes, ato asam manis. Hehe. Indah mesen dua porsi jagung bakar pedes keju versi serutan. Sementara aku sibuk foto-fotoin jagung bakarnya, Indah udah ngabisin setengah porsi. Ehm, rasanya emang enak. Bumbunya banyak, meleleh di antara butiran-butiran jagung. Tiba-tiba jagung terasa istimewa. Padahal, di kampung halamanku sana jagung teronggok di mana-mana :p

Jagung Bakar 4 Rasa
Jalan Dago, Seberang Superindo
Jagung bakar pedes keju Rp 6.000

Nasi Goreng Aki Rasa Cinta

Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya Aki muncul lagi, sejam sebelum tahun 2007 berganti. Mumpung lagi mangkal di depan kos, aku mesen seporsi nasi goreng pedes. Kebetulan seharian belom makan berat. Beda sama kebanyakan tukang nasi goreng yang memanfaatkan saus sambel untuk bumbu pemedas, Aki make irisan cabe merah segar di nasi gorengnya. Daging ayam yang digunakan juga istimewa. Dagingnya padat, tanpa lemak, dan diiris besar-besar. Selain itu, nasi goreng dimasak di atas bara arang. Masih tradisional banget deh. Untuk ukuran nasi goreng keliling dan kaki lima, nasi goreng Aki ini juara.

Yang tak kalah mengesankan adalah sosok Aki sendiri. Sampe usianya yang udah sangat sepuh, Aki masih bertahan berjualan dengan mendorong gerobak. Sambil berjalan-jalan, katanya. Mangkal di satu tempat malah bikin dia capek karena enggak bisa ke mana-mana. Tipikal orang tua Jawa banget.

Jadilah, seporsi nasi goreng Aki sebagai hidangan penutup tahun 2007. Semoga perjuangan Aki yang tak kenal lelah menjadi inspirasi bagiku untuk menyongsong tahun baru dengan penuh semangat. Semangaaaattt!!!

Nasi dan Mi Goreng Aki
Keliling dari Kiaracondong-Muararajeun
Nasi Goreng Rp 8.000